Sabtu, Oktober 8, 2022

Ajengan Ilyas, Usia 15 Tahun Sudah Mengajar Santri

spot_img

Tahun 1949 adalah tahun dimulainya tugas mengajar bagi Ilyas. Tugas itu datang dari penjara Sukamiskin, melalui sebuah surat yang dikirim ayahnya yang tengah dipenjara oleh Tentara Belanda pada Agresi Militer Kedua. Dalam surat itu, ia diminta untuk mulai membantu mengajar santri. Ilyas agak bingung. Ia memang sering membacakan ulang bacaan kitab kepada sejumlah santri yang memintanya, tetapi untuk mengajar, ia merasa belum cukup pantas. Perasaan takut menyelinap pula dalam hatinya. Ia mencoba mengumpulkan keberanian untuk melaksanakan perintah itu. Ia baca sekali lagi surat itu. Ah, ia pun mulai merasa mantap. Santri yang harus diajarnya adalah santri yang usianya di bawah dirinya, bukan yang lebih tua darinya. Setelah surat itu diumumkan, maka pengajian untuk santri dibagi dua. Santri senior oleh Pak Saeful Millah dan santri anak-anak oleh Ilyas Ruhiat.

Dengan pembagian ini, pengajian di Cipasung tak terputus karena pimpinan pesantren dipenjara oleh Belanda  yang bermaksud kembali menjajah Indonesia. Seorang ajengan muda telah muncul, Ajengan Ilyas Ruhiat. Untuk memudahkan pengajaran di depan santri, Ilyas rajin menyiapkan bahan pelajaran. Misalnya untuk pelajaran ilmu sharaf, ia membuat semacam diktat. Catatan ini memandunya untuk dapat mengajar secara terukur kepada santri. Ia dapat membagi materi pelajaran secara baik untuk setiap kelas yang diampunya.

Abah Ruhiat merasa sangat percaya diri mampu mendidik sendiri Ilyas dan seperti ingin mewariskan semua ilmu kitab kuning kepadanya. Hal itu membuat Ilyas tak punya kesempatan untuk mengaji di luar Cipasung, bahkan untuk sekadar mengikuti pengajian pasaran di bulan Ramadhan. Ilyas menjadi santri pituin atau asli didikan Cipasung. Dengan arahan Abah seperti itu, Ilyas terkondisikan untuk selalu membaca. Ia menjadi ‘kutu kitab’ sekaligus ‘kutu buku’. Sebab di luar pendidikan pesantren, ia berlangganan majalah dan surat kabar yang bernuansa Islam. Dari sana ia menambah wawasan dan informasi dunia terbaru. Ia juga mengkonsumsi berbagai buku, baik koleksi ayahnya maupun ia membeli sendiri.

Tahun 1950 sampai 1953, Ilyas menjadi siswa Sekolah Pesantren Islam (SPI) Cipasung. Di SPI ia belajar bahasa, sejarah, dan ilmu hitung (matematika). Selain belajar di SPI ia tetap tekun mengaji kitab kuning. Selain mengaji kepada Abah, ia juga mengikuti pengajian Pak Saeful Millah, Pak Bahrum, Pak Abdul Jabbar, dan semua santri senior yang ditugaskan mengajar. Setiap selesai mengaji pada seorang guru, selalu ada saja santri yang mengikuti Ilyas hingga ke kamarnya. “Jang, tolong dibacakan lagi bacaan kitab tadi, saya ketinggalan,” ujar si santri yang usianya lebih tua sehingga memanggilnya, Jang, kependekan dari Ujang, panggilan untuk orang yang lebih muda. Sementara yang lebih muda memanggilnya Kang, kependekan dari Akang. Ilyas tak pernah menolak. Dengan sabar ia melayani santri tersebut. Ilyas selalu bisa membaca ulang pelajaran yang baru diperolehnya itu secara sempurna.

Lama-lama ia jadi populer di kalangan santri yang suka ‘ketinggalan’ atau ‘mengantuk’ saat mengaji. Mereka meminta Ilyas membacakan ulang kitab yang akan maupun sudah dikaji. Saat itu, setiap guru di Cipasung lazimnya akan menguji santri sebelum melanjutkan pelajaran. Dengan ujian yang dilakukan secara acak itu, akan diketahui mana santri yang belajar terlebih dahulu dan mana yang malas. Maka untuk menghindari kemarahan guru saat ujian di awal pelajaran, Ilyas menjadi andalan para santri yang merasa tidak percaya diri menghadapi ujian itu.

(Dikutip dari Buku Ajengan Cipasung Biografi KH Moh Ilyas Ruhiat karya Iip D. Yahya, alif.id, 2021)

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles