Senin, September 26, 2022

Asma Binti Yazid, Juru Bicara Perempuan Pada Zaman Rasulullah SAW

spot_img

Kutub.id- Pada zaman Nabi Muhammad SAW, para sahabat perempuan (shahabiyah) berbaur dan ikut berperan bersama dengan kaum laki-laki. Dalam artian, mereka sama-sama belajar Islam bersama, ikut serta dalam berdakwah dan berhijrah bersama dengan laki-laki. Para shahabiyah pun saling bahu membahu dan saling melengkapi bersama kaum laki-laki.

Tidak sedikit pula para perempuan pun ikut berperan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mengisi ruang-ruang publik yang ada. Ada yang menjadi tenaga medis, menyediakan logistik ketika berperang dan bahkan ada yang ikut berjihad bersama Rasulullah SAW.

Salah seorang perempuan yang juga terkenal sebagai perempuan yang berai, kritis dan piawai dalam berbicara. Ia terkenal sebagai seorang juru bicara yang dengan berani bertanya pada Rasulullah SAW mewakili kaumnya. Perempuan tersebut yakni Asma Binti Yazid bin Al-Sakan Al-Anshari. 

Seperti perempuan lainnya pada masa tu, Asma adalah lulusan Madrasah Nubuwwah yang mulia. Dalam kitab Nisaa’ Haular Rasul, disebutkan diantara sesuatu keistimewaan yang dimiliki oleh Asma adalah kepekaan inderanya dan kejelian perasaannya serta kehalusan perasaannya. Asma pun dikenal sebagai seorang perempuan yang pemberani, kritis,  teguh dan seseorang pejuang yang luar biasa serta menjadi teladan bagi perempuan yang lainnya dalam berbagai bidang.

Salah satu kisah tentangnya adalah yang tercantum dalam riwayat Muslim bin ‘Unaid. Suatu ketika, Asma mendatangi majelis Nabi Muhammad SAW untuk menanyakan suatu hal. Dia pun duduk diantara jamaah laki-laki dan ikut mendengarkan pengajaran Nabi Muhammad saw. Ditengah-tengah pengajian, dia dengan berani mengangkat tangan dan mengungkapkan isi pikirannya yang juga sebagaimana perempuan lain ingin ditanyakan namun tidak berani. 

Kepada Nabi Muhammad SAW, dia memprotes karena merasa kaum laki-laki lebih diutamakan dalam hal beribadah dari pada kaum perempuan. Mereka boleh shalat berjamaah di masjid, ikut berperang di jalan Allah, menyaksikan jenazah dan mengerjakan amal yang lainnya yang tidak dikerjakan oleh perempuan. Sedangkan para perempuan hanya menjadi penunggu rumah, menjaga harta suami, memintal pakaian dan mengasuh anak-anak. Padahal bukankah Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah untuk kaum laki-laki dan perempuan.

Maka Nabi Muhammad Saw memandang putra sahabatnya, kemudian beliau bersabda, “Apakah kalian pernah mendengar perkataan seorang wanita yang lebih bagus daripada pertanyaan wanita ini terkait urusan agamanya ?”.  Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah Saw, kami tidak pernah mengira bahwa seorang wanita akan sampai pada pemikiran seperti ini”. 

Kemudian Nabi Muhammad Saw menoleh kepada Asma seraya bersabda, “Pahamilah wahai Asma’, dan beritahukanlah kepada para perempuan lainnya bahwa pelayanan yang terbaik dari seorang wanita terhadap suaminya demi mencari keridhaan suaminya serta mengikuti kerelaannya dapat menyamai semua itu”. Kemudian Asma’ binti Yazid pun berlalu pergi seraya mengucapkan La ilaha ill Allah dan takbir.

Tidak hanya itu, Asma pun langsung mendatangi Nabi Muhammad manakala ada persoalan keagamaan yang dihadapinya atau kaum perempuan lainnya pada saat itu. Misalnya, dia pernah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW perihal tata cara bersuci dari haid bagi perempuan. Ia tidak malu menanyakan hal itu karena menganggap sebuah hak dan kesucian. 

Asma’ juga turut menghadiri Baiat Ridwan, dan ketika itu dia berbaiat di bawah pohon. Dia menyaksikan Fathul Makkah dan pengepungan Khaibar. Dia menyaksikan perang Yarmuk, ketika itu Sembilan orang tentara Romawi beserta pembawa panjinya terbunuh. Asma’ cukup berbangga karena dialah satu satunya wanita Anshar yang berbaiat pertama kali kepada Rasulullah SAW bersama Kabsyah binti Rafi’ ibunda Sa’ad bin Mu’adz.

Peranan Asma’ binti Yazid terhadap hadits Nabi sangat besar. Dia mengambil dan mencatat setiap hadist Rasulullah SAW yang didengar oleh kedua telinga nya. Selain itu, dia juga mencintai ilmu dan suka bertanya. Asma’ memiliki keberanian untuk meminta penjelasan dan bertanya kepada Nabi SAW. Oleh karena itu, dia menjadi satu satunya wanita Anshar yang banyak meriwayatkan hadits Nabi. Dia berhasil meriwayatkan sebanyak 81 hadist Rasulullah SAW.

Asma’ juga dikenal sebagai sosok yang dermawan dan mengutamakan orang lain. Suatu ketika dia ketika datang ke rumah Rasulullah dan membawakan tulang yang masih berdaging dan beberapa roti. Rasulullah kemudian memerintah para sahabat memakannya dengan membaca bismillah. Subhanallah, makanan itu tidak habis habis walau di makan oleh 40 orang.

Begitulah kisah Asma binti Yazid, seorang perempuan yang beranak menyampaikan aspirasinya dan unek-unek nya juga menjadi juru bicara bagi perempuan lainnya yang tidak berani bertanya pada Rasulullah. 

Asma binti Yazid wafat pada tahun ke-30 H atau 17 tahun setelah mengikuti perang Yarmuk. Sepanjang hidupnya dia berhasil meriwayatkan 81 hadist Nabi Muhammad SAW. Barangkali Asma bisa menjadi contoh untuk perempuan hari ini, menjadi teladan bagi perempuan untuk bisa berani menyampaikan aspirasi dan pertanyaan-pertanyaan yang hendak ditanyakan. 

Penulis: Zakia Norma Yunita/Magang
Editor : Siti Fatonah

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles