Selasa, Oktober 4, 2022

Bendera Merah Putih Yang Lusuh

spot_img

Oleh Zildan Agung Alfiani

Kutub.id- Matahari sudah kembali terbit. Hari itu kalender sudah duduk di tanggal 17 Agustus 2022. Tapi entah kenapa Pak Apip belum kunjung memasang bendera.

Aneh rasanya padahal para tetangganya bahkan seluruh warga desa sudah menyiapkan bendera merah putih untuk berkibar di depan halaman rumah.

Sehari-hari Pak Apip memang sibuk. Sebagai seorang kuli setiap pagi dia harus pergi ke Pondok Pesantren Al-Hikmah demi membangun kamar santri putra dan setiap sorenya dia pulang ke rumah dengan penuh kelelahan tapi Pak Apip selalu semangat bekerja demi menafkahi keluarga.

Tapi, ya! Jangankan Pak Apip, semua orang pun juga merasakan sibuk.

Rasanya siapapun yang tinggal di bumi pertiwi tercinta ini akan tergerak untuk memasang bendera kebanggaan RI untuk menyambut momentum kemerdekaan, tidak terkecuali Pak Apip pasti lebih mengerti.

Kebetulan hari itu adalah hari minggu. Pak Apip di beri libur kerja dan ia sedang santai bermain dengan anak semata wayangnya yang berusia delapan tahun. Anak beliau adalah seorang laki-laki yang sedang duduk di kelas 3 SD, namanya Rian.

“Ayah, ayah. Mengapa kok di halaman rumah kita tidak di pajang bendera merah putih? Kan sebentar lagi ada perayaan HUT Ke-77 RI? “

“Tidak apa-apa, Nak. Kan sekarang jalan raya sedang sepi karena corona. Para tetangga juga jarang bertamu tambah lagi dengan ayah, tiap hari ayah bepergian kesana kemari. Sudah puas rasanya melihat kibaran bendera. “

“Tapi rian malu, Ayah! Masa teman-temanku bilang bahwa keluarga kita tidak mau mengenang jasa para pahlawan yang dulu berjuang melawan penjajah. “

“Lho, Rian kan setiap hari Senin melaksanakan upacara, kemudian juga mengheningkan cipta. Semua itu di lakukan untuk mengenang jasa para pahlawan kan? Cukup. Ayah mau beli seblak dulu sebentar. “

Lagi-lagi Rian tidak puas dengan jawaban Pak Apip. Dirinya semakin bingung dan gelisah, entah apa alasannya yang bakal ia katakan kepada guru dan teman-temannya.

“Ahh, Sudah! Itu urusan nanti.”

Rian pun menenangkan hatinya dengan membaca buku motivasi dan kisah perjuangan para pahlawan kemerdekaan.

Lima belas menit kemudian, Pak Apip sudah tiba di rumah sembari membawa
Sebungkus seblak ketika ingin menyapa Rian tiba-tiba sang ayah berhenti di sudut pintu sambil meneteskan air mata.

Pak Apip tak kuasa mendengar kata demi kata yang dibacakan oleh Rian dengan suara yang begitu lantang.

“Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segitiga warna. Selagi masih ada lagi ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita selesai! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat. Tertanda: Ir Soekarno.”

Ayah yang berprofesi kuli ini menyadari bahwa dirinya sudah menyombongkan diri, merasa telah berbuat baik, dan menganggap profesi kuli ini sebagai seseorang yang paling berjasa di bumi Indonesia. Padahal, perjuangan para pahlawan dahulu sungguh penuh dengan darah.

Tanpa berpikir panjang, Pak Apip pun segera mencari bendera merah putih yang selama ini simpan di dalam lemari.

Bendera tersebut ternyata masih baru dan masih cerah. Tapi sayangnya, karena sudah lama di simpan di dalam lemari penampilan benderanya jadi lusuh.

Bukan lusuh benderanya, akan tetapi hati pak Apip juga sangatlah lusuh. Lusuhnya bendera bisa dibersihkan dengan cara di cuci, tapi lusuhnya hati siapa yang tahu.

Butuh kerelaan untuk memahami, menghargai, merenungi, dan menghayati nilai-nilai kemerdekaan Indonesia. Salam merdeka!

“Marilah anak bangsa! kita sambut hari kemerdekaan ini dengan riang gembira dan bersyukurlah kepada Allah yang maha kuasa karena kita hidup di zaman anti penjajahan Jepang dan Belanda.”

Terima kasih atas jasa-jasa pahlawan Indonesia yang rela berjuang dan berkorban demi merdekanya tanah air bumi pertiwi ini. Lahul Fatihah.

Asrama Putra Koesnendar, 10 Agustus 2022
Penulis merupakan Santri Ponpes al-Hikmah Mugarsari

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles