Selasa, Oktober 4, 2022

Buku “Gus Dur di Mata Perempuan”: Beberapa Catatan

spot_img

Oleh: Neneng Yanti Khozanatu Lahpan

Kutub.id-Bagaimana kaum perempuan menyuarakan hati dan pikirannya tentang Gus Dur? Buku berjudul “Gus Dur di Mata Perempuan” ini sangat kaya perspektif, karena ditulis oleh perempuan-perempuan hebat dari berbagai kalangan dan profesi. Informasi yang tersaji pun cukup kaya, mulai hal-hal yang sangat personal (yang diceritakan keluarga dan sahabatnya) hingga hal-hal yang sangat besar, nilai-nilai kemanusiaan yang terimplementasikan dalam tindak nyata seperti disajikan dalam berbagai tulisan dalam buku ini.

Tentu, karena ditulis sebagai refleksi, buku ini bukan termasuk buku yang rumit, sebaliknya cukup ringan dibaca. Ringan tapi berbobot. Bahkan, di bagian akhir buku, terdapat goresan karikatur anak-anak tapi temanya yang menonjol di situ adalah tentang monogami. Sayang, tulisan dalam komik itu agak sulit dibaca, perlu pilihan huruf yang lebih mudah dibaca. Buku ini yang dieditori oleh Ala’I Nadjib ini dimotori oleh PP Fatayat NU pada tahun 2014 ketika Mbak Ida Fauziyah (Menaker RI saat ini) menjadi Ketua Umumnya. Kemudian, diterbitkan ulang sebagai cetakan kedua pada 2020 yang lalu.

Berikut beberapa komentar saya setelah membaca buku ini:

  1. Gus Dur sebagai Manusia Multidimensi: para penulis yang sangat beragam latar belakangnya dalam buku ini, menjelaskan Gus Dur dari sudut pandang dan peran yang berbeda-beda, sebagai orang tua/kepala keluarga, intelektual, tokoh agama, aktivis dan ketua PBNU, kepala negara, tokoh politik, aktivis pro demokrasi, dan tentu saja pembela minoritas dan kaum tertindas. Yang terakhir ini sangat menonjol dalam ketokohan Gus Dur.  
  2. Konsistensi, komitmen, dan keberanian: dari semua kisah yang diceritakan dalam buku ini, benang merah yang bisa diambil adalah sikap konsisten dan komitmennya dalam memperjuangkan hak-hak dasar manusia atau kemanusiaan, siapapun itu, apapun latar belakangnya. Yang paling mengagumkan kita adalah keberaniannya. Banyak orang yang punya wawasan luas, tapi belum tentu punya keberanian. Dari mana keberanian Gus Dur itu datang hingga seolah-olah ‘tidak takut apapun’, bahkan ketika harus berhadapan dengan orang terkuat di negeri ini pada masa Orde Baru? Apa yang membuat Gus Dur begitu berani? Ini yang layak kita telusuri, sehingga sikap keberanian itu akan terus menginspirasi. Dalam berbagai problem sosial dan kemanusiaan yang kita hadapi saat ini, seringkali  faktor utama yang dibutuhkan adalah keberanian, yang tak jarang harus menentang arus. Dalam hal ini, Gus Dur seperti batu karang yang kokoh, yang tak takut menentang gelombang sebesar apapun.  
  3. Humoris: ini sudah jadi trademark Gus Dur, dalam situasi apapun, dalam merespon masalah serumit apapun. Di antara humor-humor itu, sebagian diantaranya bukan sekedar humor. Orang sekarang menyebutnya ‘dark joke’, seringkali humor Gus Dur mengandung sebuah kritikan yang keras tentang realitas yang ada. Misalnya, saat Gus Dur dengan ringan dan penuh humor mengatakan, “DPR itu seperti Taman Kanak-Kanak”, yang memicu kemarahan para anggota DPR. Namun, di kemudian hari ketika banyak anggota DPR yang perilakunya mengecewakan, orang teringat kembali kata-kata Gus Dur, “oh benar kata Gus Dur, mereka seperti anak TK.” Humor dengan daya kritik yang sangat tajam. Menanggapi persoalan rumit dengan humor itu sebenarnya mirip gaya para sufi, seperti dalam kisah-kisah Abu Nawas. 
  4. Manusia yang melampaui zamannya. Kata ‘kontroversi’ sering melekat pada diri Gus Dur. Hal itu bisa dibaca dari beberapa sisi: 
    1. Sikap tulus dan apa adanya, termasuk dalam merespon keadaan yang seringkali ‘mengganggu’ suasana yang nyaman dan stabil. Orang sering lebih mementingkan keteraturan sosial, kenyamanan dan menyembunyikan kebobrokan. Maka, pandangan-pandangan yang ‘apa adanya’ tapi mengganggu stabilitas atau kemapanan yang ada menjadi dianggap kontroversial. 
    2. Kekayaan pengetahuan dan wawasan yang begitu luas, membuatnya mampu membangun wacana alternatif, yang berbeda dari orang kebanyakan. Pandangan yang berbeda ini kerap dianggap kontroversial. Tapi, tak jarang bertahun-tahun kemudian apa yang disampaikan Gus Dur menjadi kenyataan. Pandangan alternatif, out of the box, seringkali juga memicu kontroversi. 
  5. Tentang perempuan: sikap keberpihakannya pada perempuan merupakan bagian dari komitmennya membela kelompok marginal, seperti halnya kaum minoritas, buruh, dan lain-lain. Mungkin Gus Dur tidak banyak menyampaikan gagasan atau pemikiran tentang perempuan secara khusus, tetapi beliau lebih banyak menunjukkan keberpihakannya itu melalui action, tindakan nyata. Sebagaimana kesaksian keluarga, bagaimana ketika isu gender belum terlalu populer, Gus Dur sudah menerapkan sikap kesetaraan itu dalam keluarganya. Beliau sudah menjadi mitra sejajar bagi istrinya. Ketika ia memiliki posisi, jabatan/kewenangan/kekuasaan, maka ia berperan sangat penting dalam menghadirkan Lembaga, peraturan, yang berpihak pada perempuan. Saat menjabat sebagai Presiden, Gus Dur mengganti Kementerian Urusan Wanita menjadi Kementerian Pemberdayaan Perempuan, mendorong diberlakukannya Pengarusutamaan Gender melalui Inpres no 9 tahun 2000, mendorong affirmative action untuk anggota dewan perempuan, dan lain-lain. Sebagai aktivis pro-demokrasi, Gus Dur selain dikenal membela kaum minoritas, Gus Dur dicatat punya jasa besar dalam membantu upaya-upaya kesehatan reproduksi, seperti KB yang masih banyak ditolak di kalangan pesantren tradisional pada tahun 80an. Ketika isu feminisme dan kesetaraan gender masih banyak ditolak di pesantren-pesantren, Gus Dur turut membantu mengenalkannya di dunia pesantren dengan sabar. Bahkan, Musdah Mulia menyebutnya sebagai Feminis pertama di lingkungan NU. 
  6. Di lingkungan organisasi NU, yang sering dilabeli sebagai kelompok tradisional, Gus Dur menjadi pionir dari lahirnya gagasan-gagasan yang dianggap liberal, yang kemudian melahirkan para pemikir progresif di kalangan NU. NU menjadi organisasi yang unik: istilah tradisional disematkan kepadanya, hingga menjadi musuh Orde Baru karena tidak sesuai dengan misi pembangunan yang diusungnya, yakni modernisme, tetapi pemikiran-pemikiran progresif, terbuka, dan maju juga lahir dari NU, organisasi yang dianggap tradisional tersebut. Gus Dur pun menyebut dirinya Neo-Tradisionalis, seperti ditulis seorang intelektual dari Jepang, Satomi Ohgata. Karena pandangan-pandangan Gus Dur lah Satomi juga tertarik masuk Islam, walaupun sebagai ilmuwan ia sudah menjadikan Islam sebagai objek kajian selama 20 tahun.  
  7. Keseimbangan khazanah pemikiran Barat dan Timur menjadikan Gus Dur sosok intelektual yang khas, menjadikan Gus Dur sosok yang membumi, tidak mengawang-ngawang, tetapi membawa gagasan-gagasan yang sophisticated itu dalam konteks budaya Indonesia yang khas, seperti gagasannya tentang pribumisasi Islam. 
  8. Aspek lain yang mungkin tidak banyak dibicarakan dalam buku ini adalah kecintaan beliau pada sastra, film, dan musik, hingga pernah menjadi Ketua DKJ (1982-1985). Di Bagdad, Gus Dur kuliah di Fakultas Adab, dan di Al-Azhar belajar di fakultas Syariah. Tidak banyak tokoh agama, ulama, yang memiliki kekayaan batiniah yang diperoleh melalui seni dan sastra, dan keluasan ilmu melalui khazanah klasik dan modern. 

Tentu, masih banyak hal yang bisa dicatat tentang ketokohan Gus Dur dari buku yang ditulis oleh 23 penulis perempuan ini. Gus Dur sendiri seperti buku terbuka yang akan terus dipelajari dan dibaca oleh siapa saja tentang pemikiran, pengalaman dan tindakannya di segala zaman.  

Penulis adalah staf pengajar ISBI Bandung dan Pengurus PW Fatayat Jabar

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles