Selasa, Oktober 4, 2022

Cita-citaku Bukan Lagi Dokter, Polisi, ataupun Guru

spot_img

Kutub.id– Cita-cita adalah suatu harapan dan impian dalam hidup seseorang. Cita-cita adalah motivasi dan kunci. Motivasi sebagai kunci yang menentukan mau jadi apa kita di masa depan nanti.

Menurut KBBI cita-cita adalah keinginan (kehendak) yang selalu ada di dalam pikiran. Tujuan yang sempurna (yang akan dicapai atau dilaksanakan).
Setiap orang selalu ingin mendesain hidupnya supaya masa depan yang ia raih sesuai dengan keinginannya. Mustahil bagi orang normal tidak mau hidupnya lebih baik dari keadaannya saat ini. Karena masa depan gemilang dan bahagia itu harapan semua orang dan fitrah manusia.

Setiap hal yang diinginkan pasti akan terpintas di dalam pikiran manusia, akan tetapi kita harus ingat bahwa keinginan tersebut jangan sampai hanya membuat kita berangan-angan saja bahkan membuang-buang waktu tanpa usaha.

Setiap orang punya mimpi, setiap individu punya harapan, setiap manusia pasti punya cita-cita dan setiap makhluk mempunyai garis jalannya sendiri untuk menentukan senang dan sengsaranya kehidupan kemudian.
Bagi sebagian orang cita-cita, impian dan harapan dapat memotivasi dirinya sehingga perilaku dan segala aktivitas yang dilakukannya diusahakan demi mencapai cita-citanya suatu hari nanti.

Bermula dari bangku sekolah dasar, cita-cita setiap orang mungkin berubah-ubah dari SD, SMP hingga SMA, termasuk juga cita-citaku. Cita-citaku dulu ingin jadi guru, kemudian berubah lagi ingin menjadi dokter, kemudian berubah lagi ingin jadi polisi, tentara dan lain sebagainya.

Pilihan cita-citaku itu, entah itu jujur dari hatiku atau ikut teman-teman bermainku saat itu, karena dari dulu teman-teman kecilku juga banyak yang bercita-cita jadi dokter. Makanya ketika aku ditanya cita-cita dengan polosnya aku menjawab “Aku ingin jadi dokter.”

Ya, itulah masa di mana anak-anak memiliki mimpi besar namun tidak mengetahui bagaimana cara meraihnya, dan tak pernah memikirkan bagaimana risiko kegagalannya. Di masa itu yang ada di benak saya adalah cita-cita yang tinggi dan populer sehingga mudah untuk diucapkan, seperti jadi guru, polisi, dokter atau TNI.

Gambaran dan cerita di atas merupakan pengalaman penulis di masa kecil yang mempunyai segudang cita-cita dan harapan. Sekarang diri ini sudah dewasa, dan sedang menempuh pendidikan tinggi dengan jurusan Ilmu Komunikasi, Konsentrasi Jurnalistik di UIN Bandung. Entah berlandaskan apa saya mengambil jurusan tersebut, mungkin ingin menjadi seorang penulis, jurnalis, atau bahkan pengusaha. Doakan saja ya hehe.

Kembali lagi ke pembahasan, setelah membaca pengalaman saya di masa kecil, coba kita bandingkan dengan keadaan anak-anak di masa sekarang ini. berbeda dengan dahulu, keadaan dunia atau peradaban saat ini berubah seratus delapan puluh derajat, begitu kira-kira.

Bergesernya zaman, cepatnya arus informasi dan kecanggihan teknologi membuat anak-anak di masa sekarang mempunyai harapan dan cita-cita lebih ke modern. Karena apa yang ia baca, apa yang ia pelajari, apa yang ia tonton, dan apa yang ia lakukan sudah berbeda dengan zaman di mana saya kecil dulu.

Kalau sekarang mungkin cita-citanya bisa jadi, ingin menjadi seorang web developer, programmer, peneliti, content creator, vloger, youtuber atau bahkan gammer. Semua itu tidak dapat dipungkiri, bisa saja terjadi karena keseharian mereka dihadapkan dengan kecanggihan teknologi yang menjadikannya motivasi untuk mengikutinya.

Jika cita-cita modern itu benar-benar teraih akan menjadikannya suatu penghasilan yang menjanjikan, dan menjadikannya kebahagiaan. Karena cita-citanya sebagian dari pada hobi yang disukainya.

Pesan untuk kamu yang se-usia denganku saat ini, mari melek teknologi, manfaatkan bonus demografi yang akan melanda negeri ini. Jangan sampai kamu diperbudak oleh orang lain, apalagi diperbudak oleh teknologi itu sendiri.

(Abdul Manap)

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles