Selasa, Oktober 4, 2022

Dialog untuk Menjaga Tali Persaudaraan

spot_img

Kutub.id- Bekerjasama dalam program Joint Initiative for Strategic Religious Action (JISRA), PW Fatayat NU Jawa Barat selenggarakan Dialog Kebangsaan di Desa Cipagati Kabupaten Tasikmalaya, Jumat (05/08).

Bertema Makna Kemerdekaan RI dalam Membangun Kehidupan Masyarakat yang Harmoni dan Inklusif, kegiatan ini merupakan rangkaian dari agenda dialog antar agama yang akan terselenggara di Garut dan Tasikmalaya.

Dialog ini bertujuan untuk mempertemukan para tokoh dari berbagai ormas dan komunitas. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan agar kokohnya ukhuwah yang selama ini telah dijalin oleh masyarakat Desa Cipaganti.

Ketua MUI Kecamatan Cisurupan, KH Jaya Karama dalam sambutannya menegaskan dialog tersebut merupakan hal yang sangat penting sebagai upaya menjaga tali persaudaraan.

Selain itu, KH Jaya Karama menyampaikan, agama Islam telah memberikan tuntunan kepada umatnya agar senantiasa menjaga empat semangat yang harus dipupuk sebagai umat Islam, yakni semangat keagamaan, kebangsaan, kebhinekaan, dan semangat kemanusiaan.

“Islam memberikan tuntunan kepada umatnya agar senantiasa menjaga empat semangat yang harus dipupuk sebagai umat Islam, yakni semangat keagamaan, semangat kebangsaan, semangat kebhinekaan, dan semangat kemanusiaan,” ungkapnya.

Pertama, beliau menjelaskan semangat keagamaan merupakan keyakinan terhadap agama bahwa agama kita adalah agama yang benar. Namun, yang harus dilihat adalah bagaimana cara beragama yang benar sesuai dengan perintah agamanya masing-masing. Maka tidak akan ada kemungkaran di muka bumi, sebab tidak ada agama manapun yang mengajarkan kesesatan.

“Semangat keagamaan yang sebenarnya menjadi salah satu cara bagaimana kita bisa merespons situasi sosial,” imbuhnya.

Kedua, semangat kebangsaan meletakkan rasa penghormatan yang tinggi kepada para pendiri dan para pendahulu kita dengan menghargai jasa para pahlawan yang telah berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

“Hal tersebut menjadi dasar untuk mempertahankan kemerdekaan dengan mengisinya melalui hal yang positif, salah satunya dengan cara menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” ucap KH Jaya Karama.

Ketiga, semangat kebinekaan merupakan semangat yang diperoleh melalui sikap toleransi terhadap saudara-saudara sebangsa kita yang berbeda. Toleransi terhadap perbedaan sama artinya dengan percaya dengan keberadaan sang khalik yang memang menciptakan makhluknya secara berbeda-beda supaya saling mengenal.

Selanjutnya, semangat kemanusiaan menjadi puncak bagi ibadah sosial yang sesungguhnya. Kita berasal dari sumber yang sama yakni Nabi Adam AS, tanpa melihat wilayah, suku, bangsa, agama, ras, dan budaya, bahkan jenis kelamin. Dalam prinsip ini juga diajarkan bahwa perempuan dan laki-laki adalah sama.

“Keduanya sama-sama memiliki hak yang harus dihargai satu sama lain, sebab keduanya memiliki kesempatan yang sama di hadapan Allah untuk menjadi hambanya yang takwa,” tegasnya.

Dalam acara dialog tersebut, terdapat pula interaksi yang hangat dan cair antara sesama peserta dari berbagai kelompok tersebut, yang sama-sama memandang pentingnya dialog dalam rangka menghilangkan prasangka. Hal ini disampaikan oleh kepala desa Cipaganti, Indra Gumilar, yang turut hadir sebagai peserta.

Menurutnya, sebagai seorang pemimpin di daerah, ia memiliki tanggungjawab untuk mendengarkan keluh kesah masyarakatnya tanpa kecuali. Tak jarang dirinya menggelar musyawarah secara kekeluargaan jika ada persoalan yang melibatkan sesama warga.

“Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menemukan titik temu kepentingan dari kedua belah pihak,” tuturnya.

Hal tersebut dibenarkan oleh Nurul selaku tokoh dan sesepuh perempuan Cipaganti. Menurutnya keragaman yang ada di Cipaganti terkadang menimbulkan gesekan antar sesama ormas Islam. Apalagi, di Cipaganti terdapat berbagai ormas keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, persis, NII/Bait, dan lain sebagainya.

Ia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Fatayat NU yang telah menggagas kegiatan dialog sebagai ajang silaturahmi bagi sesama warga desa Cipaganti.

“Momentum saat ini merupakan saat yang tepat untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif,” pungkasnya.

Kegiatan ini diikuti oleh 35 orang yang berasal dari berbagai elemen dan kelompok masyarakat di desa Cipaganti. Hadir pula Hezron Masitsa dan Esther Waweru dari Faith to Action Kenya yang sedang melakukan kunjungan partner di Indonesia, salah satunya adalah Fatayat NU Jawa Barat.

Terakhir, kegiatan ini di fasilitatori oleh Ustadzah Ernawati Siti Saja’ah selaku pengasuh putri pondok pesantren Nurul Huda Cibojong, Kecamatan Cisurupan.

Teks/Foto: Chodijah Fanaqi/PIC JISRA Kab. Garut
Editor: Renita

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles