Senin, September 26, 2022

Distorsi Pribadi, Sang Maha Munafik

spot_img

Oleh Akmal Aulia Riziq

Kudengar firman Tuhan.
Wa idza qoomuu ilash sholati qoomuu kusaalaa.
Hayya alashalah!
Teriak Muadzin surau itu menggetarkan Arsy’.
Mengajak umat menuju Tuhan.

Aku, seseorang yang sedang asyik-asyiknya mengonsumsi nikmat dunia maha fana.
Menghirau ajakan untuk kembali menghamba.
Enggan sujud karena dunia yang terlena.
Ah, apa aku ini!
Kenapa aku ini?

Lebih betah dalam kefanaan buta.
Mengapa di surau terasa raga sudah tak enak duduk?
Apa rasa nikmat beribadah itu telah Tuhan cabut?
Oh Tuhan, aku mohon kembalikan lagi nikmat untuk senantiasa tunduk.
Aku rindu.

Yurouunannasa wa laa yadzkurunallah illa qolila.
Lihatlah aku wahai dunia, akui aku!
Sorak aku yang memilih pengakuan manusia sebagai seorang yang hebat daripada pengakuan Tuhan sebagai hamba yang taat.
Padahal hati tak bisa dibohongi, kalbu tak bisa didustai.

Sedikit saja ingatanku pada zat maha ingat.
Langkahan kakiku hanya pada sesuatu yang tak melangkahkanku pada zat penggerak.
Tuhan, maafkan aku.
Berapa banyak berhala yang aku dewakan?
Mendewakan harta, tahta, dan wanita.

Kembali mendewakan-Mu adalah jalan yang aku usahakan.
Lailahaillallah.
Lailahaillallah.
Lailahaillallah.

Hanya semboyan saat aku ditalkinkan.
Hanya aksara saat aku ditimpa bencana.
Apa aku ini?
Tuhan, istigfarku sebut dalam diri pendosa sebatang kara.
Tuhan, maafkan aku.

Penulis merupakan Kader IPNU PKPT IAIC Kabupaten Tasikmalaya.

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles