Selasa, Oktober 4, 2022

H Abdul Rofi: Generasi Muda Butuh Doktrin Aswaja

spot_img

Indramayu, Kutub.id- Pendoktrinan Ke-Aswaja-an serta Ke-NU-an sangatlah penting di kalangan generasi muda Nahdlatul Ulama terlebih lagi di kalangan santri-santri pondok pesantren, demikian ditegaskan Kepala SMK NU Lemah Ayu, Kertasemaya-Indramayu, H. Abdul Rofi saat membuka Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Pimpinan Komisariat SMP & SMK NU Lemah Ayu, Sabtu (23/1) di Yayasan Ummul Quro Lemah Ayu.

Ditambahkan H Abdul Rofi, di luar sana banyak alumni-alumni pesantren yang terpapar aliran-aliran radikal setelah lulus kemudian bekerja di pabrik-pabrik industri atau kuliah di universitas-universitas yang bukan hanya warga Nahdliyin saja ada di sana, tetapi dari berbagai kalangan.

“Saya berharap dengan diadakanya makesta ini generasi muda Nahdlatul Ulama khususnya kaum santri akan kebal terhadap racun-racun kaum radikal di luar saat sudah lulus nanti, ingatlah wahai generasi muda NU bahwa masa depan bangsa, negara, agama dan NU ada di tangan kalian semua, jika kalian sejak dini tidak mengenal doktrin Aswaja An-Nahdliyah maka kalian akan sangat rentan terpapar,” ujarnya.

Sekretaris PC IPNU Indramayu, Ary Abi Azis Bustomi dalam sambutannya menyampaikan, gerbang awal pengaderan masuk IPNU IPPNU adalah melalui Makesta, oleh sebab itu Makesta di tingkat sekolah sangat penting sekali untuk diadakan karena mengenalkan NU sejak dini di tingkatan sekolah di kalangan pelajar untuk mencegah paham-paham radikalisme.

“Radikalisme telah menyasar kemana-mana, maka kita sebagai pelajar NU harus waspada, selamatkan teman-teman kita dengan membawanya ke dalam NU, karena siapa yang ikut NU insyaallah selamat dunia akhirat,” tegas Ary.

Sementara, Ketua PC IPPNU Indramayu, Mariya Ulfa menyampaikan, bagian terpenting dari berorganisasi adalah bagaimana kita bisa berkontribusi dan berdedikasi terhadap organisasi bukan malah meminta imbalan dari organisasi.

“Prinsip dalam berorganisasi itu adalah apa yang bisa kita berikan kepada organisasi bukan apa yang kita dapat dari organisasi, termasuk dalam IPNU dan IPPNU kita harus memberikan kontribusi besar untuk kemajuan organisasi pelajar NU ini, karena jika kita sudah mampu memberikan atau berkhidmat, maka yakinlah kita akan mendapatkan banyak hal dari sini, baik itu ilmu, pengalaman, silaturahim maupun peningkatan kapasitas diri, ada satu hal terpenting yang harus kita ingat bahwa khidmat di NU akan mendatangkan barokah dalam kehidupan kita,” ujar Ulfa.

Saat memasuki sesi materi, salah seorang pemateri yang merupakan demisioner IPNU PAC Kertasemaya, Rizky Agung Wahyudi menyampaikan, kader dibagi menjadi 3, yang pertama NU Kader, NU Keder, dan yang ketiga NU Blunder.

“Apa yang dinamakan NU Kader? NU Kader itu adalah orang nya lahir dari NU, amaliyahnya, amaliyah NU, tahu NU Itu apa dan NU Itu bagaimana, itu yang dinamakan NU Kader. Kemudian Yang kedua yaitu NU Keder, NU Keder itu orang-orang semacam dia ngakunya orang NU, tapi tidak tahu NU. Ngakunya orang NU tapi tidak mau mengamalkan amaliyah NU, jadi timbul pertanyaan bahwasanya dia itu NU atau bukan? Kemudian Yang terakhir NU Blunder, apa sih NU Blunder itu, dia tidak suka NU, tapi hidupnya tidak bisa lepas dari NU” ujar demisioner IPNU.

Artikel di atas pernah tayang di NU Online Jabar 

Pewarta: Siti Al Asaroh
Editor: Iing Rohimin

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles