Selasa, Oktober 4, 2022

Hanya kenangan..

spot_img

In every meeting, there is a parting. Life just goes that way. All we can do is to accept it with smile.

Hanya kata itu yang saat ini tergambar dalam lubuk hatiku. Jika disebut kepasrahan, ya, memang aku pasrah menerima takdir kehilangan engkau untuk selamanya, kakak kandang terbaikku yang harus pergi selamanya.

Entah malam ke berapa engkau meninggalkan kami. Ya, aku, ibu, dan bapak, serta anak engkau kak yang baru lahir ke dunia seminggu sebelum engkau pergi selamanya.

Tidak banyak kata-kata yang bisa saya ungkapkan di sini. Anggaplah, kata-kata ini hanya sebuah ekspresi kesedihan aku akan kehilangan engkau selamanya.

Saat aku berada di sisimu, menemani saat-saat terakhir engkau hidup di dunia, tak ada tangisan pada diriku. Karena saat itu aku berusaha sekuat tenaga menggunakan akal dan otak kananku. Dalam saat-saat terakhir aku berbincang denganmu, hanya kata cinta yang aku sampaikan. Aku percaya, jika memang hari itu hari terakhir engkau, percayalah, itu memang jalan yang terbaik buat engkau –walau terkadang sulit bagi kami di sini untuk menerima kenyataan itu.

Cara kerja otak kanan ini membawa aku dalam berpikir positif. Tidak ada pemikiran negatif, apalagi sampai berpikir bahwa dengan dicabutnya nyawamu, Tuhan berlaku tidak adil.

Aku terharu saat engkau sudah payah berusaha ingin memelukku. Tiba saat engkau memelukku, engkau menciumku, engkau berkata bahwa rasa sayang engkau kepadaku begitu besar. Engkau tidak pernah tenang jika mendengar keadaanku sedang tidak baik. Dan engkau merasa bangga jika sebuah prestasi berhasil aku dapat.

Dalam perpisahan yang disertai dengan perasaanku yang tidak karuan, kamu menyampaikan pesan-pesan terakhir. Pesan-pesan itu begitu sangat terasa sekali. Sedikit mengubah arah konsep hidupku. Aku menyadari, selama engkau hidup, banyak sekali perdebatan yang kita lalui untuk menjalani sebuah proses kehidupan ini. Apa pun perdebatan itu, kami sepakat, menjunjung tinggi kemanusiaan ialah hal utama.

Dalam perpisahan itu, otak kananku masih terus berperan seperti seharusnya. Aku ingat kata-kata Jalaluddin Rumi dalam sebuah kisah perpisahan dengan para santrinya. Saat santrinya menangisi kepergiannya, Rumi berkata, “Mengapa kalian menangisi kepergian aku? Apa yang kamu tangisi? Aku mau bertemu dengan Tuhan, mengapa kamu tangisi?”.

Hal positif yang dapat aku ambil dari kisah itu ialah, aku berpikir bahwa sekarang engkau telah bersama-Nya. Andai otak kiriku yang berperan pada saat itu, mungkin aku sudah menangis sejadi-jadinya, menganggap bahwa memang benar-benar tidak adil. Kakak saya satu-satunya mengapa kau ambil?

Untunglah, sekali lagi aku sampaikan, aku tidak mempunyai rasa su’udzon sedikitpun atas kepergianmu.

Sungguh beruntungnya engkau yang masih terbilang berumur muda sudah meninggalkan dunia fana ini dan sudah menemukan tempat peristirahatan terakhir. Tugas engkau di bumi sebagai manusia sudah selesai.

Kak, engkau memang orang hebat. Ratusan orang ikut mengantar ke peristirahatan terakhirmu. Rekan-rekan engkau yang jauh berdatangan bertakziah ikut mendoakan engkau. Sampai pulang dari pemakaman, seorang lelaki sekitar berumur 35 tahun memelukku dengan meneteskan air matanya. Seraya dia berkata, “Yan, kakakmu orang baik, saleh. Aku bersaksi akan hal itu”.

Jika saya hitung, hampir setiap orang yang aku temui saat sebelum dan sesudah pemakaman, hampir semua orang mengucapkan kata itu kepadaku. Kakak aku orang baik dan saleh! Alhamdulillah.

Kenangan hanya sebuah kenangan. 26 tahun lamanya kebersamaan antara aku dan dirimu. Doakan aku di sana, kak. Salam untuk Gus Dur, sosok yang paling kita idolakan selama ini.

Hingga akhirnya saya percaya bahwa memories will never die, so this is not a goodbye.

Hanya penutup ekspresi kerinduan kepada kakakku, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk semua kerabat-kerabat dan saudara kakakku yang telah hadir di pemakaman dan bertakziah ke rumah saya serta yang memberikan doanya dari jauh. Maaf tidak bisa saya sebut satu persatu. Semoga doa yang diberikan bisa menjadi bekal kakakku di sana dan bisa menjadi bekal nanti bagi yang mendoakannya juga. Aminnn..

Penulis: Ryan Sevian

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles