Jumat, Oktober 7, 2022

It’s Okay to Not Be Okay: Para Luka yang Saling Menyembuhkan

spot_img

Kutub.id- Kesehatan mental akhir-akhir ini menjadi topik hangat yang dibicarakan pada berbagai kesempatan. Perlahan-lahan, terdapat berbagai orang yang mulai menaruh perhatian atau pegiat yang memberikan dukungan bagi para individu yang sedang berjuang menghadapi kondisi mentalnya. Bahkan, beberapa karya film dan serial juga mengangkat tema ini sebagai karya. Drama asal Korea Selatan yang satu ini juga mengangkat kesehatan mental dalam kisahnya.

Berjudul It’s Okay to Not Be Okay, salah satu drama korea yang mempunyai makna tidak baik-baik saja. Drama yang dirilis pada tahun 2000 ini disutradai oleh Park Shin Woo dengan beberapa aktor terkenal, diantaranya Kim Soo Hyun yang berperan sebagai Moon Kang Tae, seorang pria yang tidak percaya cinta.

Moon Kang Tae bekerja di Bangsal Psikiatris sebagai pengasuh pasien. Ia memiliki seorang kakak bernama Moon Sang Tae (Oh Jung Se) yang menderita spektrum autism sejak lahir. Lalu, Ko Moom Young (Seo Ye Ji) seorang perempuan penulis sastra anak-anak popular yang memiliki gangguan kepribadian antisosial hingga karakter yang egois dan kasar.

Jika drama Korea memiliki stigma cerita romantis yang picisan, maka hal tersebut tidak berlaku pada drama ini. Menceritakan tentang trauma di masa lalu, penonton akan merasakan roller coaster perubahan emosi dalam setiap ceritanya. Kita akan diajak berpikir dan memahami bagaimana perasaan sedih, sakit, dan bahagia pada setiap luka yang dialami oleh para pemerannya. Jo Young berhasil memberikan harapan pada penonton untuk bangkit dari keterpurukan dan berdamai dengan diri sendiri.

Cerita semakin lengkap ketika penonton disuguhkan dengan animasi yang tak biasa. Diceritakan seorang gadis cantik dengan mata yang besar hidup di kastel nan jauh di tengah hutan. Dia tak diterima di lingkungannya, sampai-sampai dianggap sebagai moster karena bayangan hitam di belakangnya.

Gadis itu bernama Koo Moon Young. Dia dianggap sebagai moster oleh ibunya sendiri agar menuruti keinginannya, bahkan hidupnya terancam mati oleh ayahnya. Ibunya telah menanamkan prinsip, bahwa Koo Moon Young tidak membutuhkan orang lain, dia hanya perlu menuruti perkataan ibunya dan hidupnya akan bahagia.

Setelah Moon Young bertemu dengan Kang Tae, dia mempunyai harapan baru bahwa Kang Tae akan memberikan cinta dan kasih sayang yang tulus padanya. Kang Tae mengatakan harapan adalah bahan bakar untuk mesin mental seseorang. Tanpa harapan, seluruh suku cadang jiwa kita akan aus atau rusak

“Lawan dari kebahagiaan bukanlah amarah atau kesedihan, jika kita masih marah atau sedih berarti kita peduli dan disini masih ada harapan. Lawan dari kebahagiaan adalah ketiadaan harapan keyakinan bahwa segala-galanya ambyar, jadi apa faedahnya melakukan sesuatu?”

Moon Young pun telah tumbuh dan menjalani hidupnya dengan cukup baik dengan melawan kecemasan, penyakit jiwa, dan depresi. Ia berhasil menjadi seorang penulis sastra anak-anak. Berkat Kang Tae, Moon Young tetap mendapatkan kasih sayang dan kehangatan yang sejak dari kecil tidak dia dapatkan.

Tidak hanya Moon Young, Sang Tae pun ingin menyembuhkan traumanya dari masa lalu yang kelam, yakni saat menyaksikan ibunya dibunuh oleh sorang perempuan yang memiliki aksesoris kupu-kupu di bajunya. Sehingga, dengan rasa trauma itu Sang Tae hanya bisa menggambar apapun kecuali kupu-kupu. Meskipun banyak hal yang harus dilewati oleh Sang Tae, tidak menyurutkan keinginannya untuk sembuh.

Setelah Koo Moon Young, Moon Kang Tae, dan Moon Sang Tae sepakat untuk tinggal bersama, mereka pun memulai hidup dengan harapan yang baru. Koo Moon Young berhasil menyembuhkan kelaparannya karena telah menemukan cinta dari Kang Tae sekaligus memiliki kakak yaitu Sang Tae.

Selain itu, Kang Tae telah menemukan kebahagiaan untuk dirinya, dengan mempercayakan kakaknya memilih jalan hidupnya sendiri. Sang Tae mulai memosisikan dirinya sebagai kakak yang akan memberikan perhatian pada adiknya dan bekerja sebagai penulis. Mereka saling menguatkan dan menyembuhkan luka psikologis serta emosional satu sama lain.

Kang Tae sudah dididik untuk mandiri sejak dia masih kecil, ibunya lebih memprioritaskan kakaknya yang memiliki penyakit autisme sejak lahir. Dia selalu mengalah demi kakaknya, bahkan setelah ibunya meninggal dia menempatkan kebahagiaan kakaknya diatas kebahagiaan dirinya sendiri. Kang Tae selalu saja berlagak kuat dan merasa bisa menyelesaikan masalah sendiri. sampai pada akhirnya dia menyadari bahwa dia membutuhkan kebahagiaan untuk dirinya sendiri.

Betapa merepotkannya mengurus diri sendiri, kita lebih lihai memperhatikan kebutuhan orang lain dari pada diri kita sendiri. Cerita hidup yang kita lewati akan dibawa kemanapun kita pergi dan itulah yang mendefinisikan diri kita. Maka, cerita-cerita itulah menentukan bagaimana kita menilai diri kita sendiri dengan menentukan hidup, rasa cinta, dan kesuksesan.

Dengan demikian, melalui dram ini kita telah belajar bahwa kita bisa melihat realitas sesungguhnya Di mana lingkungan sekitar dan juga pengaruh orang terdekat nyatanya ikut menyumbangkan masa lalu yang traumatis. Tidak apa-apa untuk mengakui bahwa kita sedang merasa sedih, tidak apa-apa pula jika kita ingin menangis, merasa lelah, menepi sejenak, lalu bangkitlah.

“Jika kau ingin membuat sekelilingmu bahagia, kau perlu mencari kebahagiaanmu sendiri. Karena, menjadi egois tidaklah selalu buruk.”

Teks/Foto: Nenden MS
Editor: Renita

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles