Jumat, Februari 23, 2024

Kartini dan Spirit Pembebasan

Kutub.id– “Panggil aku Kartini saja–itulah namaku”, demikian penggalan kalimat dalam salah satu surat Kartini kepada sahabat penanya, Estelle Zeehandelaar, 25 Mei 1899. Kutipan itu kemudian diambil oleh Pramoedya Ananta Toer untuk judul bukunya, “Panggil Aku Kartini Saja” (Lentera Dipantara: 2007). Sebuah kalimat yang memiliki makna mendalam dengan pandangan yang luar biasa dari seorang gadis belia dalam menentang feodalisme ketika ia sendiri berada dalam belenggu yang sangat kuat di dalamnya. 

Fenomena perayaan Kartini setiap tanggal 21 April, menjadi fenomena yang cukup semarak di berbagai tempat di tanah air. Berbagai kegiatan menyangkut hal itu pun digelar, sejak murid taman kanak-kanak hingga masyarakat umum. Mengenalkan sosok Kartini sejak kanak-kanak tentu sangat baik untuk mengenalkan kepada mereka tokoh-tokoh yang memberi inspirasi bagi kemajuan perempuan di Indonesia. Sayangnya, kita masih menempatkan Kartini sebagai mitos daripada sosok perempuan muda yang menuangkan kegelisahan-kegelisahannya atas berbagai hal melalui tulisan. 

Kita lebih sering memperingatinya secara simbolis bahkan artifisial. Anak-anak didandani kebaya plus sanggul dan make-upnya, ibu-ibu sibuk lomba memasak dan kaum remaja begitu antusias dalam berbagai ajang kontes kecantikan. Sebuah peran dan ajang yang justru berhubungan dengan domestifikasi perempuan. Sebuah paradoks yang justru berbeda dengan yang dicita-citakan Kartini. Anak-anak itu hanya diperkenalkan pada kebesaran mitos Kartini beserta kebayanya, pada sebait lagu yang memuliakannya, daripada pemikiran, kegelisahan, dan cita-citanya.

Berjuang dengan Tulisan

Apa jejak yang paling penting untuk diingat dari seorang Kartini? Tentu saja, gagasan-gagasan yang ia tuangkan dalam tulisan-tulisannya. Menulis telah menjadi pilihan Kartini sebagai alat perjuangan sejak ia masih sangat belia. Di tengah sulitnya pilihan yang bisa dilakukan seorang perempuan ketika itu, Kartini memilih pena sebagai alat perjuangan. Ia sadar betul bagaimana tulisan memiliki kekuatan yang luar biasa bagi sebuah perubahan meski butuh waktu lama untuk itu. Ia kerap tak mendapat restu sang Ayah ketika mendapat kesempatan untuk mengembangkan bakatnya melalui tulisan-tulisan yang dipublikasikan.

Pram mencatat, berbagai talenta yang luar biasa pada diri gadis Kartini itu terekam dalam tulisannya: seorang pembatik, pelukis, dan penulis, disamping kegemarannya pada berbagai jenis kesenian. Akan tetapi, menjadi penulis adalah cita-cita yang telah dipilihnya. Kegemarannya membaca, ketekunannya belajar, kemahirannya berbahasa serta ketajaman intuisinya dalam memahami berbagai fenomena di sekelilingnya membawa Kartini muda pada sejumlah tulisan yang menarik, baik dalam bentuk surat, catatan harian, puisi maupun prosa, yang kemudian melambungkan namanya.

Pada usia 16 tahun, ia telah menulis sebuah karangan antropologis tentang adat perkawinan golongan Koja di Jepara, yang kemudian diterbitkan dalam Bijdragen tot de Taal-Land-en Volkenkunde van Ned.-Indie. Keinginannya untuk berjuang melalui tulisan, terekam dalam sebuah suratnya tanggal 11 Oktober 1901 kepada Estelle, “Sebagai pengarang dapatlah aku secara besar-besaran mewujudkan cita-citaku dan bekerja bagi pengangkatan derajat dan pengadaban rakyatku. Kau tahu sendiri akan kecintaanku pada sastra, bahkan menjadi satu angan-anganku untuk sekali waktu jadi sastrawan yang berarti” (Ananta-Toer, 2007).

Door Duisternis tot Licht yang diterbitkan beberapa tahun setelah wafatnya oleh Mr. J.H. Abendanon, tepatnya tahun 1911, yang kemudian diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang menjadi karya monumental yang membuat nama Kartini terus dikenang. Tidak hanya di Hindia Belanda tetapi juga di dunia internasional dengan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa seperti Inggris, Perancis, Rusia, dan Arab. Bahkan, menurut catatan Pram, tulisan Kartini itu turut menginspirasi emansipasi wanita di Syiria melalui terjemahan seorang gadis Syiria bernama Aleyech Thouk dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Arab yang mendapat antusiasme yang besar dari pembacanya.

Spirit Pembebasan

Mengingat Kartini adalah mengingat spiritnya, yakni spirit pembebasan yang selalu menjadi cita-citanya. Bahkan, meski ia memiliki kehidupan yang lebih baik dari rakyat kebanyakan ia tak sungguh-sungguh dapat menikmati kebebasan (kemerdekaan) hidupnya. Dalam tatanan feodalisme yang menjadi keprihatinan Kartini, seorang perempuan tak akan pernah merasakan kebebasan itu. Sebagai anak, ia berada dalam penguasaan ayahnya (orang tua) dan ketika dewasa ia akan berada di bawah naungan suaminya. Hidup Kartini yang bak dalam penjara justru semakin mengasah kepekaan dan ketajaman rasanya akan penderitaan rakyat.

Bila Kartini telah memilih tulisan sebagai alat perjuangannya dalam berbagai situasi yang sulit, maka diharapkan para pemimpin kita, mampu menyejahterakan rakyatnya dengan kerja nyata tidak sekedar slogan-slogan dan janji-janji kosong saat kampanye. Menyelam lebih jauh kepada batin rakyat yang sudah lama lelah dan menderita akibat berbagai kebijakan yang tidak berpihak adalah sebuah sikap yang harus dikedepankan melalui  keteladanan yang layak ditiru dari sosok Kartini. Bukan saja bagi kaum perempuan, tetapi juga bagi para pemimpin, pemangku kebijakan, terlebih yang merasa dirinya mewakili rakyat di negeri ini. Wallahu’alam.

Penulis : Neneng Yanti KH, staf pengajar ISBI dan pengurus PW Fatayat NU Jabar.

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles