Minggu, September 24, 2023

Kasih Sayang KH E. Fakhruddin Masthuro pada Semut dan Pepohonan

Oleh Samsudin Ak

Almaghfurlah KH E. Fakhruddin Masthuro adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Masthuriyah Kabupaten Sukabumi sejak ayahandanya Mama Ajengan KH Muhammad Masthuro wafat (1968). Ia memimpin pondok pesantren tersebut hingga wafatnya pada tahun 2012. Selepas beliau wafat, dilanjutkan KH A. Aziz Masthuro hingga sekarang.

KH E. Fakhruddin Masthuro biasa dipanggil Kang Endin ketika berada bersama para santri juga muhibbin di Pondok Pesantren Al-Masthuriyah. Ia disapa Ajengan Endin ketika berada di kalangan alim ulama se-Jawa Barat.

Ia memang kiai sederhana, tapi kalibernya nasional dengan segudang prestasi dan pengabdian dalam mengemban amanah sebagai ulama pada zamannya. Dia pernah jadi Wakil Rais Aam PBNU, orang kedua di organisasi terbesar di dunia pada masa kepemimpinan almaghfurlah Rais Aam KH Sahal Mahfudh.

Nah, jika dalam forum nasional dan internasional itulah, KH E. Fakhruddin Masthuro mendapatkan panggilan agak resmi yaitu dengan panggilan lengkap KH E. Fakhruddin Masthuro.

Saya sebagai santri beliau, dalam tulisan ini akan menuliskannya sebagai Abah Endin.

Sebagi seorang ulama, Abah Endin dikenal sebagai ahli ilmu mantiq dan balaghah di samping cabang-cabang ilmu lain yang biasa diajarkan di pesantren. Lebih dari itu, ia memiliki rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama. Bahkan terhadap binatang dan pepohonan.

Menurut penuturan cucunya, Reza Dzulkifli Syakir bin KH Solahudin bin KH Fakhruddin Masthuro, Abah Endin tidak pernah membunuh binatang, khususnya semut.

Jika ada semut di kamar atau di rumah, Abah Endin tidak pernah memukulnya atau menggilas atau membunuhnya. Beliau senantiasa mengasihi semut-semut tersebut dengan menyimpan gula di tempat yang ia kehendaki untuk mengarahkan semut itu agar berkumpul dan makan menikmati manisnya gula.

Selain itu Abah Endin tidak pernah menebang atau menyuruh orang menebang pohon atau pepohonan sekalipun akar-akar pohon tersebut dimungkinkan akan merusak bangunan atau hal lain di sekitarnya.

“Biarkan pohon itu ada di tempatnya hingga ia menemui ajalnya sendiri karena pohon lebih patuh terhadap taqdir yang Allah tentukan kepadanya daripada kita,” ungkap Abah Endin.

Bagi saya, sebagai santrinya, apa yang dikatakan Ajengan Endin adalah kritik bagi para perusak alam yang semena-mena seperti pelaku illegal logging.

Wal hasil, beliau memiliki rasa kasih dan sayang bukan hanya pada keluarga, santri dan manusia pada umumnya. Namun beliau pun memiliki rasa dan sikap kasih sayang terhadap hewan, binatang dan tumbuh-tumbuhan selayaknya terhadap diri sendiri dan sesama manusia.

Demikianlah sosok mulia Abah Ajengan KH. E. Fakhruddin Masthuro sebagai ulama juga arsitek bangunan. Semoga lain kali saya akan menceritakan beliau sebagai arsitek yang tidak pernah sekolah di jurusan arsitektur.

Penulis adalah alumnus Al-Masthuriyah, pengasuh Pesantren At-Tamur, Bandung

Artikel di atas pernah tayang di NU Online JabarĀ 

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles