Jumat, Februari 23, 2024

Kekerasan Bebasis Gender Di Tempat Kerja: Perempuan Menjadi Korban Utama

Kutub.id – jika kalian aktif berselancar di media sosial, pasti kalian sering melihat kampanye mengenai isu kesetaraan gender. banyak aktivis dan penggiat gender yang menyuarakan isu ini dengan tujuan menyadarkan masyarakat akan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

Jika melihat data di lapangan, dari katadata.co.id  Berdasarkan Catatan Tahunan (Catahu) Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), sepanjan tahun 2021 kasus kekerasan berbasis gender (KBG) terjadi sebanyak 338.496 atau naik 50% dibandingkan tahun sebelumnya.

Masih dari katadata.co.id, Jawa Barat menduduki peringkat pertama kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan dengan jumlah 58.395 kasus. di susul oleh Jawa Timur dengan 54.507 kasus, dan disusul Jawa Tengah dengan 52.697 kasus. Jika di lihat kasus kekerasan berbasis gender ini paling sering terjadi di provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia.

United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) mendefinisikan Kekerasan Berbasis Gender (KBG) sebagai kekerasan langsung pada seseorang yang didasarkan atas seks atau gendernya. Sayangnya, perempuan menjadi korban yang paling sering mengalami kekerasan berbasis gender ini.

Kekerasan berbasis gender ini bisa terjadi kepada perempuan di mana saja termasuk di lingkungan kerja. Tanpa di sadari, kekerasan berbasis gender ini banyak di lakukan oleh teman sejawat atau bahkan oleh sistem yang perusahan miliki. Nah, jika kamu termasuk wanita karir yang dituntut untuk bekerja dan mandiri, kamu perlu tahu nih beberapa kekerasan berbasis gender yang sering terjadi di tempat kerja.

Dari magdalene.co, ada beberapa bentuk kekerasan berbasis gender yang biasa didapat perempuan di tempat kerja. Ini bisa bantu kamu untuk menimbang apakah rekan kerja dan perusahaan tempatmu bekerja adalah tempat yang ramah gender. yuk kita kepoin!

Gaji Perempuan yang Tidak Sama

Perempuan sering kali mendapatkan bayaran yang lebih rendah dibandingkan dengan rekan pria yang memiliki kualifikasi, pengalaman, dan tanggung jawab yang sama. Ini dikenal sebagai “pay gap” atau kesenjangan upah antara jenis kelamin.

Pelecehan Seksual di Tempat Kerja

Pelecehan seksual di tempat kerja adalah bentuk diskriminasi yang sangat serius dan tidak dapat diterima. Ini mencakup perilaku yang tidak diinginkan seperti komentar yang melecehkan, sentuhan yang tidak pantas, atau ancaman terkait seksual yang membuat perempuan merasa tidak aman dan tidak nyaman di tempat kerja.

Pemilihan pekerjaan yang terbatas

Beberapa sektor pekerjaan, seperti bidang teknologi atau konstruksi, sering dianggap sebagai “kerjaan pria” dan mungkin tidak menarik bagi perempuan. Stereotip gender yang persisten dapat mengarah pada pembatasan dalam pemilihan pekerjaan dan pengembangan karier.

Perempuan Lebih Jarang Mendapatkan Promosi Dibanding Pria

Perempuan sering menghadapi kesulitan dalam memperoleh promosi dan mendapatkan tanggung jawab yang lebih tinggi dalam organisasi. Faktor-faktor seperti prasangka gender, stereotip, atau persepsi bahwa perempuan tidak cocok untuk posisi kepemimpinan sering kali menjadi penghalang.

Perempuan Segan Dalam Nego Gaji di Tempat Kerja

Masih banyak yang menganggap kalau perempuan menego gaji adalah sesuatu yang serakah atau putus asa. Sehingga banyak dari perempuan yang merasa ragu untuk bernegosiasi dengan perusahaan. Glassdoor melakukan penelitian dan menemukan fakta bahwa perempuan lebih jarang menegosiasikan gaji mereka dibanding pria.

Diskriminasi dan kekerasan khususnya berbasis gender ini adalah tindakan melanggar hak asasi manusia dan melawan prinsip kesetaraan gender. konstitusi negara pun sudah menjamin bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan hak ekonomi, sosial dan budaya. Itu tertuang pada pasal 27 ayat 2 yang berbunyi “ tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”.

Jadi, seharusnya udah gak ada lagi tuh yang namanya kekerasan berbasis gender di lingkungan kerja. Bersyukurnya, dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran tentang isu diskriminasi terhadap perempuan di tempat kerja telah meningkat, dan langkah-langkah untuk mendorong kesetaraan gender semakin diperjuangkan oleh individu, organisasi, dan pemerintah.

Penulis: Bestari Saniya

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles