Sabtu, Oktober 8, 2022

Keteguhan Hati dan Prasangka Baik Terhadap Allah SWT

spot_img

Kutub.id- Beberapa orang terkadang merasa resah dan takut karena terlalu banyak melakukan dosa, dan merasa tenang dan bahagia ketika telah melakukan banyak amal ibadah dan serangkaian perbuatan baik dalam kehidupannya. Keadaan tersebut merupakan haalun min ahwaalil khoiroot, salah satu perilaku yang baik dan termasuk maqomatil iman (derajat keimanan).

Dalam QS. ar-Rahman ayat 46 dijelaskan:

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

“Dan bagi orang yang takut akan derajat tuhannya, maka baginya dipersiapkan dua surga.”

Kondisi seperti inilah yang dikaji oleh Ulama Ahli Sufi, bahwa hal ini tidak serta merta terjadi pada semua orang, dan bahkan makna di atas dapat menjadi penghalang bagi seseorang untuk mencapai hadroh Allah SWT.

Orang-orang yang percaya bahwa tidak ada sesuatu pun selain Allah SWT yang dapat mengubah hatinya, maka dosa tidak akan mengubah hati mereka menjadi ketakutan, bahkan kebaikan pun tidak akan membuat hatinya merasa senang. Karena, ketakutan dalam hati dan kesenangan dalam hati seseorang akan Allah berikan tanpa ada kaitannya dengan perbuatan, baik dosa maupun ibadah.

Dalam syarah kitab al-Hikam dijelaskan tentang definisi Musyrik:

تعلق القلب بالاسباب عند غفلته عن المسبب الاسباب

“Ketergantungan hati terhadap sebab-sebab serta melupakan yang membuat sebab.” (Kitab Syarah Al-Hikam, Syaikh Ibnu ‘Athoillah As-Sakandari)

Dapat kita pahami, bahwa ketika kita meyakini kegelisahan karena dosa, dan senang karena banyak amal ibadah tanpa mengingat semua substansinya hanya dari Allah SWT, maka berdasarkan definisi tersebut kita semua masih tergolong orang yang belum bertauhid.

Orang yang bertauhid akan meyakini kesenangan hatinya walaupun tanpa di dasari oleh sebab banyaknya amal kebaikan yang telah dilakukan, serta merasa gelisah hatinya tanpa ada perbuatan dosa.

Maka dari itu, dalam kondisi bagaimanapun kita harus selalu berbaik sangka kepada Allah SWT, walaupun terkadang kita merasa tidak suka dan bahkan marah dengan ketetapan-Nya yang tidak sesuai dengan harapan kita. Karena pada dasarnya manusia tidak akan pernah tahu bahwa dalam setiap ketetapan atau kejadian yang ada dalam kehidupan kita akan selalu terdapat hikmah yang Allah SWT berikan. Wallahu a‘lam bi shawab.

Editor: Renita

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles