Jumat, Februari 23, 2024

Kisah Pengabdian Hidup Siti Nafiqoh

Kutub.id- Di balik kesuksesan seorang laki-laki, selalu ada peran perempuan hebat di belakangnya. Pepatah ini nampak sesuai dengan Siti Nafiqoh sosok perempuan hebat istri KH Hasyim Asy’ari.

Tak banyak data dan dokumen yang menjadi rekaman jejak Siti Nafiqoh, namun banyak cerita nyata yang bisa ditampilkan melalui abdi ndalem atau masyarakat umum yang pernah bertemu langsung dengannya.

Berbeda dengan Siti Walidah atau Ny Ahmad Dahlan yang banyak berkiprah langsung di tengah masyarakat dan memimpin organisasi perempuan, Siti Nafiqoh lebih banyak menghabiskan waktunya untuk keluarga serta berperan dalam mendidik putra-putrinya hingga menjadi tokoh kepesantrenan, bahkan berperan penting dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Siti Nafiqoh dikaruniai 10 putra dan putri, diantaranya Hannah, Khoiriyah, Aisyah, Azzah, Abdul Wahid atau sering dipanggil Wahid Hasyim, Abdul Hakim, Abdul Karim, Ubaidillah, Mashuroh, dan Muhammad Yusuf.

Memiliki anak yang berkiprah menjadi kiai, negarawan, bahkan ulama ternyata telah di cita-citakan oleh leluhur Siti Nafiqoh. Ia pun berusaha mewujudkan itu semua melalui anak-anaknya. Selain itu, keberhasilan yang dicapai pun tidak lepas dari aspek-aspek pendidikan.

Di sisi lain, tak bisa dipungkiri bahwa Siti Nafiqoh dikenal sebagai sosok yang cerdas dan berpikiran maju. Pada tahun 1950, guru sepuh pesantren Salafiyah Syafi’iyah di Tebuireng mendapat cerita, bahwa Siti Nafiqoh telah dinilai sebagai sosok yang modern pada zamannya. Salah satu bentuk kemodernannya ialah mampu menguasai bahasa Inggris. Hal tersebut rupanya ia peroleh dari keluarganya. Siti Nafiqoh adalah putri Kiai Ilyas Sewulan Madiun, keturunan dari Kyai Ageng Basyariyah, seorang ulama karismatik yang memiliki hubungan dekat dengan Pakubowo II.

Sebagai madrasah pertama, Siti Nafiqoh mengabdikan diri agar keluarganya mampu berpikir maju. Peran inilah yang dinilai sebagai bantuan berharga untuk seorang suami. Oleh karenanya, KH Hasyim Asy’ari mengutip hadist dari kitab dlau al-misbah yang disampaikan Rasulullah dalam khutbah haji wada’ bahwa, “Sesungguhnya mereka (para istri) hanyalah penolong bagimu.”

Meskipun Wahid Hasyim tumbuh besar di kalangan pesantren yang dipandang tradisional oleh banyak orang, ternyata kemahiran Siti Nafiqoh dalam berbahasa Inggris berhasil ia berikan kepada anak anaknya. Ia berhasil mencetak ulama-ulama yang meneruskan perjuangan KH Hasyim Asy’ari berkiprah di Nadhlatul Ulama dan pondok pesantren yang dimiliki ayahnya.

Teks/Foto: Zakiyah
Editor: Renita

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles