Kamis, Februari 22, 2024

Kisah Rasulullah Bertemu Anak Berpakaian Lusuh di Hari Raya

Dalam kitab Durrotun Nasihin Syekh Utsman Assyakir memuat sebuah kisah inspiratif dari jungjungan kita Rasulullah SAW.

Pada sebuah hari raya, sesaat sebelum Shalat Id dilaksanakan, Kanjeng Nabi melewati sekumpulan anak-anak yang sedang bermain riang gembira ikut bahagia datangnya hari raya. Tapi betapa kagetnya beliau, ketika melihat ada seorang anak yang berbeda kontras dengan anak-anak yang lain. Anak ini berpakaian lusuh, penuh tambalan, badannya dekil, dia justru terlihat sedang menangis.

Kanjeng Nabi lalu mendekati anak ini, seraya bertanya :

ايهاالصبي مايبكيك افلا تلعب معهم،؟

“Mengapa engkau menangis, mengapa engkau tidak ikut bermain dengan mereka, Nak?”

Anak ini rupanya belum tahu kalau yang nanya itu Kanjeng Nabi. Maka dengan polosnya anak ini menjawab :

ايهاالرجل مات ابي بين يدي رسول الله في غزوة كذا وتزوجت امي واكلت اموالي واخرجني زوجها من بيتي وليس لي طعام ولا شراب ولا ثياب ولا بيت فلمانظرت الآن الى الصبيان ذوي الآباء اخذتني مصيبة ابي فلذلك ابكي

“Wahai paman, Ayahku gugur di hadapan Rasulullah SAW sebagai syuhada dalam sebuah peperangan, lalu ibuku menikah dengan suaminya yang baru, ibuku telah menghabiskan semua harta warisanku, aku pun diusir oleh bapak tiriku dari rumahku, kini aku hidup sebatang kara, aku tak punya makanan, minuman, pakaian bahkan rumah. Maka ketika aku lihat teman-teman sebayaku riang gembira di hari raya, aku teringat ayahku yang sudah tiada, itulah yang menyebabkan aku menangis”

Sebagai seorang yang berjiwa sosial yang tinggi, manusia paling sempurna, tentu saja jawaban anak ini membuat Kanjeng Nabi tersentuh hati, sambil berlinang air mata , beliau bersabda :

ياصبي هل ترضاني ان اكون اباوعائشة اما وعليا عما والحسن والحسين أخوين ؟

“Nak ! Maukah engkau menjadikanku sebagai ayah? Siti Aisyah sebagai ibu? Ali sebagai paman? Hasan dan Husain saudara?”

Anak ini baru sadar, bahwa yang ada di hadapannya adalah kekasihnya, Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Sambil menangis penuh haru dan bahagia dia berkata:

لم لاارضى يارسول الله…

“Tentu saja aku senang sekali wahai Rasulullah ..”

Kisah di atas hendaklah menjadi nasihat bagi kita semua, bahwa kebahagiaan kita menyambut hari raya , jangan hanya dirasakan oleh kita dan keluarga saja, tapi kita harus berbagi kebahagiaan itu dengan anak-anak yatim yang hidup di sekitar kita. Karena kesalehan individu tidak berarti apa-apa di hadapan Allah, jika tidak dibarengi dengan kesalehan sosial.

Dalam hal ini Allah ta’ala mengingatkan kita melalui firman Nya :

ارئيت الذي يكذب بالدين .. فذلك الذي يدع اليتيم… ولا يحض على طعام المسكين

Pendusta agama itu adalah orang yang tidak memiliki jiwa sosial.

والله يهدينا الى سبيل الحق

Penulis adalah Ketua PCNU Karawang

Artikel di atas pernah dimuat di NU Online Jabar

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles