Rabu, November 29, 2023

Krisis Kemanusiaan yang Terjadi di Palestina

Kutub.id – satu bulan sudah konflik antara Palestina dan Israel meledak sejak 7 oktober 2023 lalu. Total jumlah korban per 2 november 2023 dari kedua belah pihak mencapai 41.234 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 25,7 persen, 10.593 jiwa, merupakan korban tewas dan 30.541 orang, 74,3 persen, adalah korban luka-luka seperti yang dilansir dari kompas.id.

Informasi yang bisa kita lihat diberbagai platform sosial media, menampilkan dampak paling besar dirasakan oleh warga Palestina dengan melihat kerusakan dan proporsi jumlah korban yang begitu jomplang. 86,8 persen korban tewas dan 82,2 persen korban luka merupakan warga Palestina.

Lalu bagaimana nasib warga Palestina yang masih bisa bertahan hingga saat ini? dari laman Instagram Sofia Samarah, orang Palestina sekaligus kreator digital yang aktif menyuarakan isu terkait konflik Palestina – Israel, ia membagikan fakta yang terjadi di jalur Gaza yang mungkin terabaikan oleh sebagian dari kita.

Debu

Sejak 7 oktober Israel dengan gencar melancarkan pengeboman ke Palestina dari mulai pemukiman hingga berbagai fasilitas publik seperti gedung pemerintahan, kampus, sekolah hingga rumah sakit. Tentu, setiap bom di jatuhkan dan mengenai bangunan, serpihan puing -puingnya akan berhamburan dan debu bertebaran di udara.

Setiap orang bernafas dalam debu, tanpa masker apalagi alat bantu pernafasan. Perang juga membuat kelangkaan air semakin memburuk sehingga membuat mereka tak bisa membasuh mata, hidung dan tenggorokan dari partikel debu.

Kebisingan

Dari detik.com, Tentara Israel telah menjatuhkan 18.000 ton bom di Jalur Gaza sejak 7 Oktober. Bom-bom itu disebut lebih dahsyat dibanding Hirosima. Ini menghasilkan suara bertubi-tubi dari misil, ledakan, ambulans, teriakan orang minta tolong, keluarga yang menangisi kematian orang tercinta, teriakan frustasi dan tangisan anak – anak.

Kerusakan

Adanya peperangan tentu akan menghasilkan banyak kerusakan. Banyak gedung runtuh sehinggan banyak jenazah terjebak dalam reruntuhan yang sulit diakses. Setidaknya ada 1,000 jenazah yang tak bisa dievakuasi. tentu mesin pengungkit untuk mengangkat reruntuhan bangunan sangat diperlukan. Sebagian jenazah yang selama berminggu – minggu tak bisa di makamkan dengan layak akan menilbulkan bau menyengat.

Urine dan Feses

Karena Israel memblokade seluruh jalur Gaza, ini membuat akses air dimatikan, toilet tak lagi beroperasi. Hanya 10% toilet di Gaza yang berfungsi. Itu pun jumlahnya semakin sedikit. Warga dipaksa mengantri dalam antrian yang sangat panjang atau pergi kemanapun yang mereka bisa untuk sekedar kencing dan buang hajat.

Akibatnya, bau menyengat yang tak sedap semakin memenuhi udara. Jadi, tak hanya bau dari jelazah yang sudah berminggu-minggu, tapi juga bau dari kotoran korban selamat yang kekurangan air. Terlebih tisu toilet dan produk kewanitaan semakin sulit didapat.

Sampah

Sampah menjadi masalah lain yang terjadi di jalur Gaza. Dari mulai sampah serpihan makanan hingga baju penuh darah menimbun dan terus menggunung tanpa ada yang mengangkut, tidak ada langkah sanitasi bisa dilakukan.

Lalat

Dari mulai tumpukan jenazah dalam reruntuhan, urin dan feses hingga sampah, mengundang hadirnya lalat dalam jumlah besar yang tak terkendali. Lalat merubungi dan menggigit manusia yang masih hidup maupun yang mati. Mereka merubungi sampah, makanan, hingga secercah air yang tersedia.

Insomnia

Perang akan mengadirkan rasa takut dan was-was bagi para korbannya. Mungkin ini yang terjadi di Gaza sehingga masyarakat di sana banyak yang mengalami insomnia. Rakyat di Gaza melaporkan bahwa mereka hanya bisa tidur maksimal selama tiga sampai empat jam sehari.

Dengan kebisingan yang tiada henti, hadirnya trauma, rasa takut dan putus asa, mengakibatkan mereka mengalami insomnia sehingga membuat mereka mengalami kelelahan akut. Kurang tidur menyebabkan mereka lambat dalam memberikan reaksi dan melemahkan sistem imun mereka.

Kelaparan

Masalah panganpun menjadi momok yang menakutkan yang harus di hadapi korban. Keterbatasan makanan sudah berada di titik kritis. Para orang tua tidak lagi memiliki makanan, sehingga anak – anak mereka tidak bisa makan. Banyak orang harus mengantri dalam antrian panjang selama berhari – hari, demi memperoleh makanan.

Keputusasaan

Dan yang terakhir adalah keputusasaan. Konflik yang terjadi di Gaza membuat tak seorangpun dari mereka merasa aman. Tak ada yang tahu apakah mereka akan hidup esok hari . Perasaan yang takut menanti mereka secara bertubi-tubi.

Konflik antara Palestina dan Israel tentu membuat dunia ikut berduka. Jangan membandingkan jumlah dari masing-masing korban, karena satu nyawa manusia sama berharganya. Banyak sekali kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, disabilitas dan lansia yang menjadi korban. Padahal, kita semua memiliki hak dan kebebasan yang sama tanpa adanya perang dan kekerasan.

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles