Selasa, Oktober 4, 2022

Perempuan dan Dapur

spot_img

Kutub.id– Dalam penafsiran tertentu, dapur dipahami hanya sebagai ruang belakang di mana perempuan biasanya diasosiasikan. Makanya ada istilah kasur, sumur, dapur di mana perempuan diharapkan berperan maksimal. Di tiga tempat itulah perempuan menjadi perempuan. Akan tetapi, konon perempuan modern (feminisme) menolak pengasosiasian itu.

Perempuan harus lebih dari sekadar kasur, sumur, dan dapur. Perempuan boleh, bahkan harus, keluar dari ketiganya. Penolakan tersebut, jika memang benar disebut penolakan, memang masuk akal. Namun, apakah benar kasur, sumur, dan dapur hanya ruang belakang? Adakah tafsiran lain yang lebih kreatif daripada itu? Menurut saya, dapur bukan hanya ruang belakang.

Dapur adalah tempat reproduksi sosial. Selain untuk memasak, secara simbolis dapur adalah tempat di mana kesejahteraan keluarga, lalu nantinya masyarakat, dipikirkan dan dikerjakan. Bukankah apa yang disebut kerja itu pada dasarnya adalah cara agar dapur tetap ngebul? Dengan ungkapan lain bahkan dapat dikatakan dapur adalah pusat kehidupan.

Politik atau apalah yang tinggi-tinggi itu pada akhirnya adalah kepanjangan dari apa yang dibutuhkan oleh dapur. Oleh karena itu, pengasosiasian perempuan dan dapur sesungguhnya bermakna sangat luhur. Lebih dari sekadar tempat untuk memasak, dapur adalah lokasi perjuangan kelas yang paling nyata. Ketika minyak goreng dan sembako lainnya langka dan mahal harganya, di dapurlah semua itu terasa.

Di sinilah kesadaran struktural menemukan dirinya. Sayangnya, feminisme hari ini sering melupakan dapur. Mereka lebih sibuk meyakinkan perempuan kelas menengah dan elit agar tampil ke depan, supaya berdaya dan mandiri, tetapi meninggalkan dapur seolah itu sekadar ruang belakang di mana perempuan melayani laki-laki. Padahal, lebih dari itu, justru di dapurlah emansipasi bisa dimulai.

Penulis : Amin Mudzakkir/Kontributor

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles