Selasa, Oktober 4, 2022

Masuk Fakultas Hukum: Apakah Sulit?

spot_img

Kutub.id- Apabila ditanya oranglain saat ini kuliah jurusan apa dan kita menjawab jurusan hukum, mayoritas responsnya adalah “wah seram”, “wah rajin ya”, “wah pintar menghafal dong”, dan hal-hal lain semacamnya apakah kenyataannya seperti itu?

Seperti bayangan orang-orang pada umumnya, melalui tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman menjadi mahasiswa hukum. Pertama-tama, perkenalkan nama saya Vanessa Shania dari Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan Bandung, saat ini saya menempuh semester enam dan sedang mengambil seminar penulisan hukum untuk skripsi.

Pada awalnya, motivasi saya masuk jurusan hukum karena ingin menjadi notaris. Sebuah pekerjaan yang saya pikir menyenangkan dan fleksibel waktunya tergantung saya bukan tergantung klien. Sehingga sejak SMA saya mengambil jurusan IPS karena sudah tahu mau masuk jurusan hukum.

Mendengar perkataan-perkataan orang bahwa jurusan hukum itu cape, seram, harus rajin, dan lain-lain. Jujur, saya juga pernah mengalami ketakutan semacam itu, ketakutan apakah jurusan ini terlalu berat untuk saya? Apakah saya harusnya mengambil jurusan yang lain saja?

Saya ingin berbagi cerita kehidupan saya sebagai mahasiswa fakultas hukum, ketika pertama kali mengikuti masa orientasi kampus atau yang lebih kita kenal dengan “ospek kampus”, dosen pembicara saat itu mengatakan bahwa jadi mahasiswa hukum bukan harus pintar menghafal, tetapi kuncinya hanya rajin membaca. Saya bingung maksud perkataan dosen tersebut seperti apa, karena yang saya pahami orang hukum harus hafal peraturan perundang-undangan.

Seiring berjalannya waktu, saya paham maksud perkataan dosen saat itu. Peraturan yang ada beserta asas-asas hukumnya bukanlah hal yang harus dihafalkan tapi di baca dan dipahami saja maknanya sebab setiap tahun peraturan selalu berubah tetapi apa hal yang tidak berubah dari hukum? Konsep-konsep dan asas-asas yang membentuk hukum tersebut. Syarat rajin membaca ini bisa saya katakan umum, karena semua jurusan pun harus rajin membaca supaya memiliki banyak pengetahuan seperti pepatah mengatakan bahwa buku itu adalah jendela dunia, saya tidak bisa memperdebatkan hal itu.

Banyak pertanyaan mengenai kesulitan terbesar mahasiswa hukum itu apa, sih? Konsisten. Mengapa konsisten? Mungkin pada awalnya kita rajin membaca, sampai suatu titik kita benar-benar muak dengan buku, jurnal, dan peraturan perundang-undangan, apakah kita berhenti membaca? Berhenti belajar? Tentu saja tidak.

Anak muda banyak memakai istilah burnout jika sudah muak dengan suatu hal, tetapi apa sih yang harus kita lakukan ketika burnout itu melanda? Jawabannya adalah melambat. Melambat bagaimana? Tetap bergerak tetapi melambat, bukan malah terus memaksa diri kita yang sedang burn out bekerja lebih keras lagi. Pada fase melambat ini, kita dapat mere-charge energi kita, me re-charge semangat kita, dan kembali merenungkan sebenarnya apa cita-cita awal kita masuk jurusan ini dan apa mimpi yang ingin kita capai. Kiat-kiat seperti itu yang saya lakukan untuk bertahan konsisten menempuh pendidikan hukum, sehingga setidaknya meskipun sulit saya tidak akan mundur.

Pertanyaan berikutnya, apakah kalau sekolah hukum harus menjadi pengacara, notaris, dan ahli hukum? Tidak juga. Pengembangan hukum bisa dilihat dari sisi praktisi dan akademisi, praktisi bergerak pada implementasi atau penerapan ilmu hukum yang dipelajari. Sedangkan, akademisi lebih bergerak ke arah pengembangan ilmu hukumnya. Akademisi hukum contohnya adalah dosen, pengamat hukum, periset dan peneliti hukum. Sehingga, pekerjaan yang bisa dikerjakan lulusan hukum sangat luas sebenarnya, tidak terbatas pada pekerjaan-perkerjaan yang umum kita dengar di kalangan masyarakat.

Oleh karena itu, jangan menanamkan pola pikir dalam kepala kita bahwa sekolah hukum itu sulit, sebab di dunia ini tidak ada hal yang sulit selama kita mau berusaha. Manusia tidak ditakdirkan untuk selalu berhasil, tetapi manusia ditakdirkan untuk selalu berjuang.

Ada sebuah kata-kata bagus yang saya jadikan pedoman belajar, kata-kata dari Imam Syafi’i, beliau mengatakan, “Jika kamu tak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan”. Sederhana tapi maknanya luar biasa. Bagi para pembaca, saya berharap tulisan singkat ini dapat menjadi jawaban atas keraguan masuk fakultas hukum, juga memberikan dorongan serta motivasi untuk terus belajar.

Jalan-Jalan ke tanah abang
Jangan lupa membeli pizza
Kalau kamu lagi bimbang
Jangan lupa kata Vanessa

Teks/Foto: Vanessa Shania
Editor: Renita

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles