Kamis, Februari 22, 2024

Mengenal Child Grooming, Manipulasi Seks pada Anak

Kutub.idChild National Society for the Prevention of Cruelty to Children mengartikan child grooming sebagai upaya yang dilakukan seseorang untuk membangun kepercayaan dan hubungan emosional dengan seorang anak atau remaja sehingga mereka dapat memanipulasi, mengeksploitasi dan melecehkan mereka.

Groomer atau pelaku child grooming, biasanya membangun sosoknya tampak berwibawa di hadapan korban. Sosok yang mereka tunjukkan bisa jadi sebagai kekasih, mentor, atau figure yang diidolakan anak.

Perilaku ini tidak serta merta kemudian diterapkan langsung pada usia anak. Beberapa groomer merawat anak-anak untuk kemudian dijadikan pasangan pada saat mereka berusia ‘dewasa’. Tidak sedikit orang dewasa menjalin hubungan dekat dengan anak dan kemudian menikahinya saat usianya sudah cukup umur.

Hal itu dilakukan agar mereka lepas dari jeratan hukum yang mengikat mengenai kasus pernikahan anak. Padahal sebenarnya, dia sudah memanipulasi korbannya sejak usianya masih kanak-kanak.

Ada beberapa tahapan yang dilakukan Groomer dalam kasus child grooming, seperti dijelaskan dibawah ini.

Pertama-tama, pelaku menargetkan anak-anak dengan menilai kerentanannya. Biasanya, anak-anak yang kelak akan dijadikan korban adalah anak dengan pengawasan orang tua yang lebih rendah. Hal tersebut memudahkan mereka untuk dapat izin Bersama dengan korban.

Kemudian, pelaku mendekati korban dengan menjadi sosok yang dibutuhkan korban. Salah satunya adalah dengan menjadi sosok orang dewasa yang mengerti perasaan dia. Pelaku mendapatkan kepercayaan korban dengan mengawasi dan mencari tahu tentangnya agar dapat lebih dekat dengan korban.

Setelah mendapatkan kepercayaannya, pelaku kemudian terus berusaha untuk memenuhi kebutuhan (jasmani maupun rohani) korban. Karena dengannya, dia akan dianggap lebih penting oleh korban bahkan dianggap sebagai orang yang ‘ideal’.

Pemberian hadiah, perhatian ekstra hingga kasih sayang yang berlebih menjadi beberapa tanda yang harus diperhatikan oleh orang tua. Setelah itu, pelaku kemudian akan mulai mencari cara agar dapat berduaan saja dengan korban.

Mengisolasi korban dengan alasan yang dapat dimaklumi seperti untuk mengajar, mengasuh atau melatih. Ditahap ini, kedekatan antara pelaku dan anak seringkali membuat orang tua lengah untuk mengawasi secara langsung dengan tetap menemani anak.

Ketika anak sudah memiliki ketergantungan emosional dengan pelaku, dia kemudian meningkatkan hubungan hingga tahapan seksual. Hal itu ditanamkan lewat obrolan, gambar, bahkan dengan menciptakan situasi (seperti berenang atau bilas) yang mengharuskan keduanya bertelanjang.

Pelaku juga merawat dan mengontrol ketertarikan anak terhadap hal tersebut dengan memberikan konten-konten tersebut secara konsisten. Setelah pelecehan terjadi, pelaku menggunakan embel-embel rahasia dan kesalahan untuk membungkam anak.

Seperti penanaman paham bahwa pelecehan tersebut adalah akibat dari korban itu sendiri, menjadikan anak takut dimarahi oleh orang tua dan atau si pelaku ‘yang disayanginya’. Hal-hal tersebut juga digunakan sebagai alat ampuh agar anak mau berhubungan lagi.

Anak yang sudah dimanipulasi oleh pelaku sering diancam dan disalahkan sehingga membuat mentalnya lemah dan sulit untuk berontak. Korban-korban biasanya berubah menjadi lebih tertutup, mudah tertekan dan mudah marah.

Buat para orang tua, jangan lupa untuk tetap awasi anak Ketika dia sedang Bersama orang yang lebih dewasa, baik itu saudara apalagi orang asing agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi.

Sumber: The Asian Parent, Oprah.com

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles