Minggu, September 24, 2023

Orang Tua, Motivator Terbaik Kehidupan

Oleh Abdul ManapĀ 

Motivator terbaik dalam kehidupan adalah orang tua. Orang tua adalah cinta pertama anak-anaknya. Bagi orang tua anak adalah titipan, amanah dari sang pencipta yang harus diperjuangkan kehidupannya, pendidikannya dan masa depannya.

Semua orang tua pasti menginginkan anaknya hidup dengan bahagia dan kelak bisa membahagiakannya. Berharap hidupnya bisa lebih baik dari kehidupan orang tuanya. Bagi orang tua normal tidak ada yang berharap kehidupan anaknya sengsara, miskin, lemah dan suram masa depannya.

Ketika sang buah hati lahir ke dunia disambut senyum lebar kebahagiaan dan tangisan haru dari ayah dan ibu atas lahirnya harapan baru. Buah hati yang suci dirawat dengan tangan halus nan lembut, di besarkan dengan rasa kasih sayang, dimanja, ditimang dan tangisan nakal atas ulahnya tidak menjadi deritanya.

Pendidikan menjadi nafkah yang wajib bagi orang tua kepada anaknya yang menginginkan anaknya terdidik, terbina dan terarah kehidupannya, sehingga kebodohan tidak menyertainya.

Menurut Wikipedia Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.

Pendidikan yang diterima pertama kali oleh anak adalah pendidikan dari orang tuanya. Pendidikan selanjutnya yaitu pendidikan yang diterima dari orang lain yang mumpuni dalam keilmuannya.

Pendidikan formal maupun informal diseleksi sedemikian rupa, kemudian dipilih oleh orang tuanya mana yang memberikan kontribusi paling besar bagi perkembangan putra-putrinya. Perkembangan intelektualitasnya, perkembangan sikapnya, emosionalnya, prestasinya, fisiknya dan lain sebagainya. Wajar, karena semua itu adalah wujud dari cinta dan kasih sayangnya. Ya cinta orang tua kepada buah hatinya yang diharapkan mampu menjadi yang terbaik dalam segala hal. Menjadi anak yang bisa mewujudkan cita-cita dan mimpinya.

Semua rasa kasih sayang dan pengorbanan yang telah orang tua perjuangkan untuk anaknya tidak pernah sedikit pun meminta balasan, cukup dengan doa dan tersenyum bahagia itu sudah menenangkan jiwanya.

Kita sebagai anak yang diperjuangkannya, dibelai, dimanja dan dikasih sayang sudah sepatutnya membahagiakan kedua orang tua yang sudah membesarkan dan merawatnya hingga saat ini.

Banyak anak yang bilang ingin mengubah hidup mereka, ingin membawanya ke suatu tempat yang indah dan melihat dirinya sukses. Ingin membuatnya bangga dan saya ingin menjadi anak yang dibanggakannya.

Tapi apakah semua mimpi dan cita-citamu itu akan terwujud menjadi nyata atau hanya sebatas wacana saja, itu pilihanmu.

Semuanya ada pada tekad dan semangat belajarmu. Ada pada kemauanmu untuk maju dan bangkit mengejar mimpi itu. Mimpi di sini bukan mimpi indah ketika tidur nyenyakmu yang terbangunkan pula oleh mimpi itu, dan bukan pula harus tidur lagi untuk melanjutkan mimpi itu. Melainkan kamu harus bangun dan bangkit, bagaimana caranya kamu mewujudkan mimpi itu.

Dalam proses mewujudkan mimpi itu pasti akan kau jumpai hujan yang mengguyur badanmu, batu kerikil yang membuat telapak kakimu penuh darah, atau pula badai yang ingin membuatmu menyerah. Tersungkur, terjatuh, menahan perih, serta berbagai rintangan lainnya.

Tapi tolong jangan berhenti, tidakkah kau ingat dengan perjuangan ayah dan ibumu? Mereka rela banting tulang dan bercucuran keringat demi mengusahakan pendidikanmu. Tidakkah kau tahu telah berapa banyak air mata ibumu yang terjatuh dikala mendoakanmu.

Apakah kau tega apabila membalasnya dengan sikap malas belajarmu itu? Dengan uang yang mereka berikan namun kau hambur-hamburkan dengan percuma.

Ayo keluarlah dari zona nyamanmu, ingat perjuangan orang tuamu, ingat apa niat dan tekadmu, dan buang jauh-jauh sikap malasmu. Sudah tidak sepantasnya untuk mengeluh mari bangkit dan syukuri, buatlah mereka tersenyum dan menangis karena kehebatanmu. Jadikanlah ia sang motivator terbaikmu.

Penulis adalah Santri Pondok Pesantren al-Ihsan Cibiru, Kabupaten Bandung

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles