Senin, September 26, 2022

Peran Orang Tua Dalam Membangun Kepercayaan Diri Seorang Anak

spot_img

Oleh Mufidah Navi Adzkia

Bangga sekali menjadi putri dari dua orang hebat yang selalu memberikan inspirasi dan arahan di setiap jalan anak-anaknya. Banggaku pada ayah dan ibu, karena tidak pernah sekalipun menuntut aku menjadi a, i, u, e, o.

Ibu pernah bilang, “Ibu gak apa-apa kok, kalo anak-anak ibu gak pintar yang penting anak-anak ibu selalu rendah hati dan baik kepada orang lain.”

Ayah pun selalu bilang, “Ayah gak butuh kok, anak yang hebat atau sukses. Ayah cuma mau anak-anak ayah berguna untuk sekitarnya dan jangan melakukan suatu hal hanya untuk mendapat keuntungan. Tapi, lakukanlah hal-hal yang bermanfaat untukmu dan orang lain.”

Terlepas dari semua hal yang terjadi, ayah dan ibu adalah orang yang jauh melebihi kata luar biasa. Saya yakin masih banyak orang tua yang selalu mengharapkan anaknya untuk ini dan itu. Percayalah bukan itu yang anak-anak harapkan. Karena saya masih menjadi seorang anak, saya tahu apa yang ada di pikiran para remaja di era ini seperti, tekanan, harapan, atau omongan para tetangga yang mengharuskan mereka sempurna semua hal di dunia ini. Tentang kekurangan, saya harap orang tua seperti ayah dan ibu bisa sedikit menginspirasi orang tua lainya.

“Terima kasih dan maaf dari Navi untuk ayah dan ibu.”
“Mungkin, menjadi Paskibraka bukanlah hal besar. Namun, sebisa mungkin Navi akan selalu berusaha untuk hal-hal yang akan menyambut Navi di waktu mendatang.”

Semua anak mencintai orang tuanya, dan semua orang tua juga begitu. Kepercayaan di setiap saat dan menjaga kepercayaan adalah kunci dari semua yang ada. Bukan hanya sekedar jadi ini (gajinya gede), jadi ini banyak yang suka, jadi ini incaran mertua. Hiduplah sebagai manusia yang bebas, hal ini hanya sekedar mengingatkan bahwa Indonesia sudah merdeka selama 76 tahun.

Ayo! Merdekakan wawasan kita, kenali orang-orang di dekat kita, bahwa semua hal di dunia ini memiliki alasan dan semua yang terjadi adalah yang terbaik.

Selain itu, ada pula beberapa anak yang suka main game. Para orang tua pun beranggapan bahwa anak tersebut mempunyai sikap pemalas, tidak becus, dan tidak mau belajar. Kenyataannya, itu hanya persepsi beberapa orang tua.

“Di balik itu, mereka sedang melakukan hal yang mereka sukai di dalam game. Tanpa orang tua sadari, mungkin karena mereka gak main game, bahkan karena anaknya udah ada di tingkat level teratas.”

“Bayangkan, jika bakat itu di support dan diberikan fasilitas, gaji pro player yang mereka dapatkan bisa lebih dari yang kita bayangkan. Awalnya saja mengorbankan kuota juga waktu, tapi memang semua hal yang ingin kita raih harus mengorbankan sesuatu. Jadi, sebagai anggota Paskibraka pun saya telah mengorbankan waktu, tenaga, walaupun tidak seberapa. Namun, berjuang ya seperti itu.”

Yesterday is history.
Tomorrow is mystery.
But, today is a gift.
That’s why it’s called the present.

Penulis merupakan Putri dari Sekretaris PCNU Kabupaten Indramayu, Yahya Ansori.

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles