Selasa, Oktober 4, 2022

Perayaan Hari Kartini Tak Sebatas Kebaya dan Konde 

spot_img

Kutub.id – Sejak 1964, 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Semula, 21 April yang notabene hari lahir Raden Ajeng Kartini, dimaksudkan sebagai refleksi usahanya memperjuangkan hak kesetaraan perempuan dalam hal pendidikan dan menentukan nasib. 

Semakin hari, refleksi perjuangan Kartini bergeser. Menjadi festival kebaya, lomba rias kecantikan, dan hal serupa lain.

Agar degradasi makna tak terus terjadi, Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mulawarman, pada Kamis, 18 April 2019, melaksanakan seminar sejarah lokal. 

Tajuknya, Kiprah Teladan Perempuan Kaltim Tempo Doeloe. Seminar diharap menjadi refleksi perjuangan Kartini. Agar wilayah domestik perempuan tak lagi hanya sumur, dapur, dan kasur.

Ellie Hasan, kurator Galeri Samarinda Bahari menjadi moderator. Memandu beberapa narasumber dengan latar belakang kesejarahan dan tokoh perempuan. 

Di antaranya Pj Sekprov Kaltim Meiliana, penulis sejarah lokal Muhammad Sarip, dan Nabila Nandini, anggota tim pengusul pahlawan nasional dari Kaltim Abdoel Moeis Hassan. 

Sarip dan Nabila juga pengurus Lembaga Studi Sejarah Lokal Komunitas Samarinda Bahari (Lasaloka-KSB).

Bicara kiprah perempuan Kaltim, dikatakan Sarip, sebelum era RA Kartini, pada pengujung abad ke-17 Kutai Kartanegara memiliki raja perempuan. 

Aji Ragi namanya. Raja ke-11 Kutai Kartanegara. Perempuan bergelar Ratu Agung itu adalah putri pertama Pangeran Dipati Maja Kusuma Ing Martapura, sang raja ke-10. “Meski begitu, tak banyak sumber mencatat masa pemerintahan Aji Ragi,” jelasnya.

Naskah kuno Salasila Raja dalam Negeri Kutai Kartanegara, hanya sedikit memuat eksistensi Ratu Agung. Meski demikian, Panji Salatin, konstitusi Kerajaan Kutai, mengadopsi hukum Islam Moderat. Tak ada diskriminasi gender sebagai pemimpin.

Dalam Undang-Undang Beraja Nanti, hukum pidana Kerajaan Kutai melindungi kehormatan kaum perempuan. Pasal 149 berisi: 

“Seperti orang hendak ke jamban jika pintunya tertutup kita masuki salah hukumnya, maka jikalau kita masuki kita tanyai dahulu takut ada anak bini orang” (Perempuan di Kalimantan Timur Tempo Doeloe, Muhammad Sarip, Nabila Nandini, hlm 11, 2019).

Pada masa itu, apabila pintu kakus (toilet) tertutup hendaknya, mengetuk dulu. Konfirmasi dulu ada orang di dalamnya apa tidak. Mencegah terjadinya pelecehan apabila ternyata di dalam toilet sedang dipakai seorang perempuan.

Pejuang Pendidikan hingga Angkat Senjata

Tak selesai di Ratu Agung, kiprah prempuan Kaltim terus bergeliat. Pada 1896, Samarinda adalah pusat pemerintahan Hindia Belanda di Oost Borneo. Pada masa itu, tak ada sekolah pendidikan formal di Kaltim. 

Baru pada 17 September 1901, politik etis atau politik balas budi Kerajaan Belanda membuka kesempatan rakyat Indonesia berserikat. Di antaranya di bidang pendidikan (Perempuan di Kalimantan Timur Tempo Doeloe, Muhammad Sarip, Nabila Nandini, hlm 13, 2019).

Dari tahun tersebut, Belanda mendirikan Volksschool alias sekolah desa. Pelajaran masih berkutat membaca, menulis, berhitung, dan kerajinan tangan. Namun, Diungkapkan Sarip, pembangunan sekolah bukan untuk kemajuan rakyat. Melainkan misi mendapat tenaga kerja untuk perusahaan batu bara, perminyakan, dan lainnya. 

Di Samarinda, sekolah desa bertahan hingga 1930.

Pada 1928, Atje Voorstad, seorang keturunan Indo-Belanda kelahiran Palembang, bersama suaminya M Jacob, mendirikan Meisje School alias sekolah keputrian. 

Atje lebih dikenal warga dengan nama pribuminya: Aminah Syukur. Sekolah keputrian yang didirikan Aminah, mendidik siswa kalangan pribumi.

Seperti namanya, sekolah ini memprioritaskan perempuan. Meskipun, bisa ditemukan juga murid laki-laki mengenyam pendidikan di sana. 

Termasuk Abdoel Moeis Hassan, gubernur kedua Kaltim sekaligus pemimpin kaum republiken. Aminah dikenang sebagai tokoh perintis pendidikan perempuan Samarinda. 

Tak hanya mengajar di sekolah, berdasar penuturan Lasiah Sabirin, ibu Pj Sekprov Kaltim Meiliana, Aminah turut datang ke rumah-rumah muridnya. “Bahkan menerima murid di rumahnya, sekitar Jalan Pangeran Diponegoro,” ujarnya.

Setelah kemerdekaan, Kaltim juga punya tokoh perempuan. Bila Aminah Syukur sebagai perintis pendidikan, perempuan-perempuan era setelah 1945 terjun sebagai aktivis. 

Mulai legislator hingga komandan sukarelawati Dwikora. “Ada Salbiah sebagai aktivis kebangsaan, Djoemantan Hasjim legislator pertama Kaltim, serta Fatimah komandan sukarelawati Dwikora,” ujarnya.

Banyak tokoh perempuan bisa jadi inspirasi. Perayaan Hari Kartini, mestinya tak sekadar perayaan simbolis lewat kebaya, konde, dan lomba merias wajah.

Kartini Era Milenial

Seperti Sarip, Nabila Nandini menilai Kartini memperjuangkan emansipasi, bukan ingin menjadikan perempuan setara laki-laki. Bukan pula ketika perempuan pintar dan terampil, akan menginjak-injak kaum adam. 

“Melainkan melawan pemikiran kusam yang membuat perempuan tidak bisa mendapat haknya untuk mengenyam pendidikan,” ujarnya.

Dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang, berisi kumpulan tulisan RA Kartini, ada mimpi pada masa yang akan datang, gadis-gadis modern bisa bebas melakukan minat. Dan pada era milenial saat ini, tak ada lagi sekat bagi perempuan untuk berkarya.

Maka, kata Nabila, dengan segala kesempatan, dia berharap ke depan refleksi Hari Kartini tak sebatas kebaya dan konde. “Memang ketika kita kecil menjadi hal yang lucu dan gemas. Ketika beranjak dewasa, mestinya cara merefleksikan lebih dalam,” tegasnya.

Kartini bisa dikenal dengan tulisan. Minat literasi di kalangan perempuan juga harus jadi budaya. “Mesti melek literasi. Dan menjadi perempuan modern seperti yang Kartini impikan,” kuncinya. 

Artikel ini telah terbit di Kaltimkece.id

Kutub.id – Sejak 1964, 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Semula, 21 April yang notabene hari lahir Raden Ajeng Kartini, dimaksudkan sebagai refleksi usahanya memperjuangkan hak kesetaraan perempuan dalam hal pendidikan dan menentukan nasib. 

Semakin hari, refleksi perjuangan Kartini bergeser. Menjadi festival kebaya, lomba rias kecantikan, dan hal serupa lain.

Agar degradasi makna tak terus terjadi, Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mulawarman, pada Kamis, 18 April 2019, melaksanakan seminar sejarah lokal. 

Tajuknya, Kiprah Teladan Perempuan Kaltim Tempo Doeloe. Seminar diharap menjadi refleksi perjuangan Kartini. Agar wilayah domestik perempuan tak lagi hanya sumur, dapur, dan kasur.

Ellie Hasan, kurator Galeri Samarinda Bahari menjadi moderator. Memandu beberapa narasumber dengan latar belakang kesejarahan dan tokoh perempuan. 

Di antaranya Pj Sekprov Kaltim Meiliana, penulis sejarah lokal Muhammad Sarip, dan Nabila Nandini, anggota tim pengusul pahlawan nasional dari Kaltim Abdoel Moeis Hassan. 

Sarip dan Nabila juga pengurus Lembaga Studi Sejarah Lokal Komunitas Samarinda Bahari (Lasaloka-KSB).

Bicara kiprah perempuan Kaltim, dikatakan Sarip, sebelum era RA Kartini, pada pengujung abad ke-17 Kutai Kartanegara memiliki raja perempuan. 

Aji Ragi namanya. Raja ke-11 Kutai Kartanegara. Perempuan bergelar Ratu Agung itu adalah putri pertama Pangeran Dipati Maja Kusuma Ing Martapura, sang raja ke-10. “Meski begitu, tak banyak sumber mencatat masa pemerintahan Aji Ragi,” jelasnya.

Naskah kuno Salasila Raja dalam Negeri Kutai Kartanegara, hanya sedikit memuat eksistensi Ratu Agung. Meski demikian, Panji Salatin, konstitusi Kerajaan Kutai, mengadopsi hukum Islam Moderat. Tak ada diskriminasi gender sebagai pemimpin.

Dalam Undang-Undang Beraja Nanti, hukum pidana Kerajaan Kutai melindungi kehormatan kaum perempuan. Pasal 149 berisi: 

“Seperti orang hendak ke jamban jika pintunya tertutup kita masuki salah hukumnya, maka jikalau kita masuki kita tanyai dahulu takut ada anak bini orang” (Perempuan di Kalimantan Timur Tempo Doeloe, Muhammad Sarip, Nabila Nandini, hlm 11, 2019).

Pada masa itu, apabila pintu kakus (toilet) tertutup hendaknya, mengetuk dulu. Konfirmasi dulu ada orang di dalamnya apa tidak. Mencegah terjadinya pelecehan apabila ternyata di dalam toilet sedang dipakai seorang perempuan.

Pejuang Pendidikan hingga Angkat Senjata

Tak selesai di Ratu Agung, kiprah prempuan Kaltim terus bergeliat. Pada 1896, Samarinda adalah pusat pemerintahan Hindia Belanda di Oost Borneo. Pada masa itu, tak ada sekolah pendidikan formal di Kaltim. 

Baru pada 17 September 1901, politik etis atau politik balas budi Kerajaan Belanda membuka kesempatan rakyat Indonesia berserikat. Di antaranya di bidang pendidikan (Perempuan di Kalimantan Timur Tempo Doeloe, Muhammad Sarip, Nabila Nandini, hlm 13, 2019).

Dari tahun tersebut, Belanda mendirikan Volksschool alias sekolah desa. Pelajaran masih berkutat membaca, menulis, berhitung, dan kerajinan tangan. Namun, Diungkapkan Sarip, pembangunan sekolah bukan untuk kemajuan rakyat. Melainkan misi mendapat tenaga kerja untuk perusahaan batu bara, perminyakan, dan lainnya. 

Di Samarinda, sekolah desa bertahan hingga 1930.

Pada 1928, Atje Voorstad, seorang keturunan Indo-Belanda kelahiran Palembang, bersama suaminya M Jacob, mendirikan Meisje School alias sekolah keputrian. 

Atje lebih dikenal warga dengan nama pribuminya: Aminah Syukur. Sekolah keputrian yang didirikan Aminah, mendidik siswa kalangan pribumi.

Seperti namanya, sekolah ini memprioritaskan perempuan. Meskipun, bisa ditemukan juga murid laki-laki mengenyam pendidikan di sana. 

Termasuk Abdoel Moeis Hassan, gubernur kedua Kaltim sekaligus pemimpin kaum republiken. Aminah dikenang sebagai tokoh perintis pendidikan perempuan Samarinda. 

Tak hanya mengajar di sekolah, berdasar penuturan Lasiah Sabirin, ibu Pj Sekprov Kaltim Meiliana, Aminah turut datang ke rumah-rumah muridnya. “Bahkan menerima murid di rumahnya, sekitar Jalan Pangeran Diponegoro,” ujarnya.

Setelah kemerdekaan, Kaltim juga punya tokoh perempuan. Bila Aminah Syukur sebagai perintis pendidikan, perempuan-perempuan era setelah 1945 terjun sebagai aktivis. 

Mulai legislator hingga komandan sukarelawati Dwikora. “Ada Salbiah sebagai aktivis kebangsaan, Djoemantan Hasjim legislator pertama Kaltim, serta Fatimah komandan sukarelawati Dwikora,” ujarnya.

Banyak tokoh perempuan bisa jadi inspirasi. Perayaan Hari Kartini, mestinya tak sekadar perayaan simbolis lewat kebaya, konde, dan lomba merias wajah.

Kartini Era Milenial

Seperti Sarip, Nabila Nandini menilai Kartini memperjuangkan emansipasi, bukan ingin menjadikan perempuan setara laki-laki. Bukan pula ketika perempuan pintar dan terampil, akan menginjak-injak kaum adam. 

“Melainkan melawan pemikiran kusam yang membuat perempuan tidak bisa mendapat haknya untuk mengenyam pendidikan,” ujarnya.

Dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang, berisi kumpulan tulisan RA Kartini, ada mimpi pada masa yang akan datang, gadis-gadis modern bisa bebas melakukan minat. Dan pada era milenial saat ini, tak ada lagi sekat bagi perempuan untuk berkarya.

Maka, kata Nabila, dengan segala kesempatan, dia berharap ke depan refleksi Hari Kartini tak sebatas kebaya dan konde. “Memang ketika kita kecil menjadi hal yang lucu dan gemas. Ketika beranjak dewasa, mestinya cara merefleksikan lebih dalam,” tegasnya.

Kartini bisa dikenal dengan tulisan. Minat literasi di kalangan perempuan juga harus jadi budaya. “Mesti melek literasi. Dan menjadi perempuan modern seperti yang Kartini impikan,” kuncinya. 

Artikel ini telah terbit di Kaltimkece.id

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles