Jumat, Oktober 7, 2022

Perempuan Menulis Perempuan

spot_img

Oleh: Regina Puspita Sari
Belajar memang sulit dan nggak semua bisa paham, tapi se-nggaknya jangan pura-pura tuli dan sengaja menutup mata”.

Kalimat ini mewakili para perempuan akan hak yang ingin mereka suarakan. Kalis Mardiasih, seorang penulis buku berjudul Muslimah yang Diperdebatkan begitu berani dalam menyuarakan hak dan kebebasan perempuan di media sosial. Tulisannya yang tajam dan terbuka, seolah tak ada rasa takut akan menimbulkan kontroversi kaum adam.

Bagi sebagian orang yang tidak tahu akan mengira bahwa buku ini hanya membahas perempuan Muslimah dan berbagai hal dan perbedaannya. Tapi, banyak sekali yang diupas tuntas terkait keresahan juga kegundahan perempuan Muslimah masa kini. Seperti, hijrah ala seleb, hijab syar’i dan non syar’i, label haram dan halal, pranikah, sampai hal-hal yang lebih serius mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan perempuan.

Tulisan di dalam buku ini sangat menarik, menyadarkan kita semua akan tren syiar-syiar syar’i yang selalu digaungkan terhadap perempuan. Terutama mengenai istilah hijrah, tren hijab, dan menjadi religius dengan kaffah tengah menjadi primadona. Pada tulisan pertama, kita akan disuguhkan dengan argumen keseluruhan judul dalam buku ini yang dikemas dengan narasi kontra bernada sinis.

Tulisan berjudul Sebuah Curhat untuk Girlband Hijab Syar’i pertama ditulis Mbak Kalis yang dimuat di mojok.co pada Desember tahun 2015 lalu, tiba-tiba ada polarisasi antara hijab syar’i dan non syar’i sontak membuat kebingungan. Muslimah yang belum memakai jilbab diibaratkan sebagai permen dan buah yang dikerumuni lalat. Secara tersirat kita menyaksikan bagaimana Islam eksklusif bisa merambah di dunia pendidikan, seperti perguruan tinggi. Ketika Muslimah mengenakan jilbab syar’i, menurut ia sudah benar, tetapi orang lain yang memandang beranggapan, jilbab syar’i dibilang Islam garis keras.

Hal ini ditandai juga dengan maraknya fenomena hijrah, kelompok-kelompok mahasiswa berkenakan jilbab, nama grup media sosial ukhti hijrah, dan berbagai kajian Islam dengan tema tema tertentu seperti menjadi perempuan kembang surga dan poligami.

Percayalah, memakai simbol kesalehan lalu berjualan oleh-oleh dengan label islami bukanlah jalan hijrah satu-satunya”.

Tulisan kedua, Mbak Kalis menulis Laporan European Network Against Racism pada Agustus 2016 melaporkan bahwa lebih dari 50% perempuan yang mengenakan jilbab kehilangan kesempatan untuk berkiprah di ruang publik karena alasan diskriminasi keagamaan. Kejadian ini sangatlah disayangkan, karena menyangkutpautkan jilbab di kepala perempuan yang tidak memiliki kuasa apa pun.

Tulisan ketiga, mbak Kalis menampakkan kesinisannya pada optimisme sebuah jilbab. “Setelah kerudung bersertifikat MUI: Hijab hipster dan sempak halal. ZOYA, yang baru saja merilis produk jilbab halal bersertifikasi MUI dan tak lupa memasang reklame iklan raksasa di kota-kota besar dengan tagline Yakin Hijab yang Kita Gunakan Halal?”  Reklame semacam itu mengecewakan berbagai merk favorite,

“Jilbab Saudia 20 ribuan bahkan jilbab paris 10 ribuan.”

Tentu, mbak Kalis sebagai Muslimah mojok yang cukup representatif untuk mewakili suara golongan ukhti berjilbab syar’i merasa terpanggil kembali untuk menuntaskan polemik ini. Lalu, ada beberapa kasus hujatan pun ikut menimpa kalangan artis yang dihujat warganet karena melepas jilbab. Seruan Mbak Kalis bersimpati dengan sekeras-kerasnya dengan judul tulisannya Jilbabku Bukan Simbol Kesalihan.

Tahun 2019, tren hijrah sangatlah populer menyebut seseorang kembali mempelajari agama Islam dengan serius. Acara hijrah seperti ini seperti gaya hidup kapitalis. Banyak pengusaha berhijrah dan meyakini bisnisnya sebagai jalan dakwah. Meskipun begitu, ada maksud lain yang ditujukan yakni kapitalis yang menjadikan keberhasilan bagi pelaku usaha hijrah.

“Mengapa perempuan selalu salah? Mengapa ia tak boleh bicara? Mengapa perempuan harus menjadi pihak yang paling ikhlas, paing sabar, dan paing tak boleh melawan?”

Banyak sekali berita seorang anak perempuan yang hamil di luar perkawinan, dan orang tua pasti menegaskan anjuran melarang anaknya berbuat negatif. Sebab, jikalau bergaul melampaui batas maka orang tualah yang akan disalahkan karena gagal dalam mendidik anaknya. Maka para orang tua pun memaksa keras agar mengajari anaknya untuk menutup aurat sedari kecil agar tidak salah pergaulan, seperti pacaran, seks bebas, hamil.

Anggapan berjilbab adalah cara agar bisa menjaga kehormatan perempuan dan melindungi dirinya dari bentuk kejahatan seksual. Padahal jilbab tidak menjadi jaminan akan terhindar dari kejahatan seksual contohnya banyak sekali kasus seperti catcalling yang mengincar perempuan baik yang menggunakan jilbab dan yang tidak berjilbab semuanya terkena catcalling.

Mempercepat perkawinan anak perempuan juga terkadang menjadi solusi bagi para orang tua agar menghindari segala alasan ekonomi, pendidikan tidak penting, sosial, dan stigma negatif terhadap takut anaknya menjadi perawan tua.

Hasil penelitian yang dilakukan BKKBN pada tahun 2014, menyebutkan 46% atau sebanyak 2,5 juta pernikahan terjadi setiap tahun di Indonesia melibatkan mempelai perempuan berusia 15-19 tahun. Bahkan, 5% di antaranya berusia 15 tahun. Padahal perempuan saat ini dituntut dan harus terbiasa mengambil peran di ruang publik dalam berbagai profesi khususnya Muslimah dan tetap melaksanakan kewajiban perannya sebagai istri atau ibu tanpa harus mendebatkan mana yang lebih baik antara ruang publik dan domestik.

Berbagai macam isu dalam buku ini tidak mengkesampingkan aspek hukum Islam atas apa saja yang telah dibicarakan. Buku ini hadir dalam bentuk pemikiran, perenungan, sekaligus curahan hati seorang perempuan. Buku ini juga mengajak kita untuk membuat sudut pandang baru sekaligus terbuka. Menjamin kesetaraan bagi perempuan dalam kehidupan, tidak membatasi perannya diruang publik dalam berbagai profesi.

Penulis adalah Wakil Bendahara IV PW IPPNU Jawa Barat.

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles