Senin, September 26, 2022

Profil Singkat Ai Rahmayanti, Perempuan yang Duduk Sebagai Wasekjen PBNU

spot_img

Kutub.id- Salah satu perempuan yang menjadi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2022-2027 adalah Ai Rahmayanti. Ia lahir Garut 8 November 1985. Ia menjadi perempuan termuda yang duduk sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) di kepengurusannya.

Ai menyelesaikan pendidikan informalnya di Pondok Pesantren Almardiyatul Islamiyyah Bandung, Pondok Pesantren Cintawana Tasikmalaya, dan Pondok Pesantren as-Saefiyyah Garut. Sedangkan pendidikan formalnya ia tempuh di Komunikasi Penyiaran Islam UIN Bandung, Ilmu Dakwah UIN Bandung, dan saat ini sedang menempuh program doktoral Ilmu Pemerintahan di IPDN Jakarta.

Selain di bidang akademis, Ai juga aktif dalam berbagai lembaga maupun organisasi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) masa khidmah 2014-2017. Ia pernah aktif di Lembaga Kemaslahatan Keluarga (LKK) PBNU 2015-2021 pada bidang perlindungan perempuan dan anak, dilanjutkan menjadi koordinator demografi. Ia juga menjadi Koordinator Departemen Gender dan Budaya di Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) 2017-2022.

Sejak 2020 hingga saat ini, Ai masih menjadi salah satu pengurus di Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (K-Sarbumusi) yang menangani Pekerja Migran Indonesia (PMI). Ai juga merupakan ketua Umum PP Rumah Perempuan dan Anak, serta Wakil Sekretaris Bidang Agama Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Sebagai pengurus, Ai akan berusaha menjalankan program yang dirancang dan disesuaikan dengan kebutuhan dan problematika keperempuanan. Pertama, melakukan konsolidasi organisasi (jam’iyyah), harapannya seluruh pengurus wilayah dan cabang NU terdapat pengurus perempuan, begitu pula lembaga-lembaga agar bisa dipimpin oleh perempuan.

Kedua, bekerja untuk memperkuat komitmen keberagaman, moderasi beragama berbasis perempuan dan keluarga menjadi bagian dari membangun peradaban.

Ketiga, perdamaian dunia dengan mengekspor Islam Nusantara, yang tentu di dalamnya ada peran perempuan khas Indonesia.

Keempat, membangun kemandirian jam’iyyah melalui (gerakan) Nahdlatut Tujjar di lingkungan perempuan nahdliyin, pemberdayaan ekonomi dan pendidikan untuk perempuan.

Teks/Foto: Istiqonita/Kontributor Jakarta
Sumber: nu.or.id

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles