Jumat, Oktober 7, 2022

Rabiah Al-Adawiyah, Sufi Perempuan yang Terkenal dengan Mazhab Cinta

spot_img

Kutub.id- Dalam literatur keislaman Sufi, sosok Rabiah Al Adawiyah banyak diperbincangkan hingga hari ini. Melansir dari NU Online, Rabiah diperkirakan lahir pada 713-717 M atau 95-99 H di Kota Basrah. Rabiah merupakan ibu dari para sufi besar setelahnya. Pemikiran-pemikirannya terus hidup di kalangan sufi selanjutnya. 

Kisah hidup Rabiah Al-Adawiyah merupakan kisah yang paling banyak diperbincangkan, apalagi jika menyangkut ajaran cinta dan konsep mahabbah. Rabiah lahir dari keluarga sangat miskin dan ketika orang tuanya meninggal. Rabiah juga pernah diculik dan menjadi budak. Setelah bebas sebagai hamba sahaya, Rabi’ah pergi mengembara di padang pasir dan menemukan tempat tinggal. Di sanalah dia menghabiskan seluruh waktunya untuk beribadah kepada Allah SWT.

Selain seorang sufi, Rabi’ah adalah seorang penyair dan karyanya yang paling fenomenal dan terkenal berjudul Cinta Ilahi dan menjadi salah satu penyair sufi terpenting pada masanya. Karena rasa cintanya yang besar pada-Nya, Iapun merupakan ahli ibadah yang kerap kali menangis dan bersedih karena ingat akan kekurangan-kekurangan dirinya di hadapan Allah. Jika mendengar keterangan perihal neraka, Rabi’ah jatuh tak suadarkan diri untuk beberapa saat.

Meskipun begitu, Rabiah tidak pernah merasa dirinya baik. Rabiah menganggap ibadahnya penuh kekurangan baik secara lahiriyah-formal maupun batin-spiritual karena masih tercampur niat-niat yang kurang tulus dan segala penyakit batin yang menyertai ibadah tersebut. Jika kebanyakan dari kita beristighfar atau meminta ampunan kepada Allah atas dosa-dosa yang dilakukan. Namun, Rabiah beristighfar untuk ibadah yang tidak sempurna.

Rabiah Adawiyah dapat dikategorikan sebagai khawashul khawash dalam tingkatan Imam Al-Ghazali atau super istimewa, tingkat tertinggi setelah tingkat orang kebanyakan dan tingkat orang istimewa. Maka tidak heran jika Rabiah adalah orang begitu zuhud, Ia kerap menolak pemberian orang lain dan dengan jujur mengatakan, “Aku tidak terlalu berhajat pada dunia”. Rab’ia sendiri berguru pada ulama dan cendekiawan terkemuka yaitu Hasan Al Bashri, seorang tabi’in (generasi setelah sahabat Nabi). Berbeda dari para zahid atau sufi yang mendahului dan sezaman dengannya, Rabi’ah dalam menjalankan tasawuf itu bukanlah karena dikuasai oleh perasaan takut kepada Allah atau takut kepada nerakanya. Hatinya penuh oleh perasaan cinta kepada Allah sebagai kekasihnya. Sehingga Ajaran-ajaran Rabi’ah tentang tasawuf dan sumbangannya terhadap perkembangan sufisme dapat dikatakan sangat besar. 

Rabiah dikenal sebagai sufi bermazhab cinta. Salah satu Syarah Al-Hikam mengutip syair yang cukup mewakili pandangan sufistiknya. Syair Rabiah itu diterjemahkan dalam tiga larik berikut ini: 

Semuanya menyembah-Mu karena takut neraka. Mereka menganggap keselamatan darinya sebagai bagian (untung) melimpah.// 

Atau mereka menempati surga, lalu  mendapatkan istana dan meminum air Salsabila// 

Bagiku tidak ada bagian surga dan neraka. Aku tidak menginginkan atas cintaku imbalan pengganti.

Rabiah wafat sekitar tahun 801 M atau 185 H. Ia wafat pada usia 83 tahun. Rabiah ingin memastikan kafan pembungkus jenazahnya berasal dari harta yang jelas. Oleh karena itu, ia telah menyiapkan jauh-jauh hari kain kafan yang kelak membungkus jenazahnya. Ia semasa hidup meletakkan kain kafan itu di depannya, tepatnya di tempat sujudnya. (As-Sya’rani, At-Thabaqatul Kubra: 66). 

Wallahu a’lam. 

Teks/Gambar : Zakiyah
Editor : Siti Fatonah

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles