Selasa, Oktober 4, 2022

Rahma el-Yunusiah: Pelopor Pendidikan Perempuan dari Minang

spot_img

Kutub.id- Berbicara soal tokoh perempuan, Indonesia tak ada habisnya menceritakan perempuan-perempuan hebat yang kontribusi kepada negara ini cukup banyak, salah satu Rahmah el-Yunusiah seorang wanita hebat berasal dari Padang, Sumatera Barat. Namanya masih asing telinga generasi muda saat ini dibandingkan dengan Cuk Nyak Dien, Dewi Sartika. Meskipun begitu, perjuangan dalam dunia pendidikan tak diragukan lagi.

Rahma el-Yunusiah, sosok wanita yang berasal dari keluarga terpandang dan religius. Ia lahir sebagai anak keempat dari pasangan Syekh Muhammad Yunus dan Rafi’ah. Ayahnya merupakan seorang qadhi (hakim agama) yang juga ahli dalam bidang ilmu falak. Kakeknya merupakan seorang ulama terkenal Minangkabau dan tokoh Tarekat Naksabandiyah, yaitu Syekh Imaduddin.

Rahma el-Yunusiah, dilahirkan sebagai tokoh pendidikan dan perjuangan Islam dari Sumatera Barat. Rahma juga seorang refomator pendidikan Islam dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan pendiri Diniyah Putri, yang saat ini meliputi taman kanak-kanak hingga sekolah tinggi. Sewaktu Revolusi Nasional Indonesia pula, ia turut memelopori pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Padang Panjang, serta menjamin seluruh pembekalan dan membantu pengadaan alat senjata mereka.

Adapun Riwayat pendidikan Rahma dimulai dari belajar pada ayahnya. Namun, hal ini berlangsung tak lama dikarenakan ayahnya meninggal dunia. ia pun melanjutkan belajar dalam bimbingan kakak-kakaknya, seperti Zainuddin Labay el-Yunusy seorang pendiri Diniyat School di Sumatera Barat. Karena tidak puas akan pendidikan yang telah di berikan oleh kakak-kakaknya, Rahmah pun mencari guru-guru lainnya di daerah Minangkabau seperti Haji Abdul Karim Amrullah.

Usaha-usaha di Bidang Pendidikan

Usaha Rahmah dalam bidang pendidikan untuk kaum wanita khususnya di dasarkan pada cita-citanya, bahwa kaum wanita Indonesia harus memperoleh kesempatan penuh dalam menuntut ilmu agar dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini bertujuan agar kaum wanita sanggup berdikari untuk menjadi ibu pendidik yang cakap, aktif, dan bertanggung jawab kepada kesejahteraan tanah air.

Hal itu ia wujudkan dengan pendirian sekolah Diniyah Putri atas bantuan persatuan murid-murid Diniyah School yang didirikan oleh kakaknya. Rahmah mendirikan madrasahnya pada tanggal 1 November 1923. Mulanya terdapat 71 orang murid yang kebanyakan terdiri dari ibu-ibu rumah tangga muda.  Pelajaran diberikan setiap hari selama tiga jam di sebuah masjid di Pasar Usang, Padang Panjang. Di samping itu, Rahmah juga mulai mengadakan usaha pemberantasan buta huruf bagi kalangan ibu-ibu yang lebih tua.

Selain itu, Rahmah memiliki prinsip dan sikap yang teguh. Ketika Belanda menawarkan bantuan kepada Madrasah Diniyah Putri dengan syarat harus berada di bawah kekuasaannya, ia menolak dengan tegas dengan alasan tak ingin sistem pendidikannya dibelokkan oleh Belanda.

Selain itu, hal yang menonjol dari Rahmah adalah sikap tanggung jawab. Ia bukan saja memikirkan kemajuan pendidikan murid-muridnya, namun juga keselamatan mereka. Pada saat koloni Jepang masuk ke Indonesia, Rahmah mengungsikan seluruh muridnya dan menanggung semua keperluan dari murid-muridnya.

Perhatian Rahmah el-Yunusiah untuk kaumnya memang tidak pernah padam. Ia bercita-cita untuk mendirikan Perguruan Tinggi Islam khusus untuk kaum wanita lengkap dengan sarana dan prasarananya. Cita-citanya ini sebagian telah tercapai. Hal ini terlihat ketika ia wafat, Diniyah Putri telah memiliki Perguruan Tinggi dengan satu fakultas, yaitu Fakultas Dirasah Islamiyah. Ia juga bercita-cita mendirikan rumah sakit khusus wanita.

Keberadaan Diniyah Putri kelak menginspirasi Universitas al-Azhar membuka Kulliyatul Banat, fakultas yang dikhususkan untuk perempuan. Dari Universitas Al-Azhar, Rahmah mendapat gelar kehormatan Syekhah yang belum pernah diberikan sebelumnya sewaktu ia berkunjung ke Mesir pada 1957, setelah dua tahun sebelumnya Imam Besar Al-Azhar Abdurrahman Taj berkunjung ke Diniyah Putri. Di Indonesia pun, pemerintah menganugerahkannya tanda kehormatan kepada Rahmah dengan Bintang Mahaputra Adipradana secara anumerta pada 13 Agustus 2013.

Di bawah kepemimpinan Rahmah, Diniyah Putri berkembang pesat. Keberhasilan lembaga ini mendapat perhatian dan pujian dari berbagai tokoh pendidikan, pemimpin nasional, politikus dan tokoh agama, baik dari dalam maupun luar negeri. Hal itu terbukti pada tahun 1957 Rahmah memperoleh gelar Syaikhah dari Senat Guru Besar Universitas al-Azhar Mesir, dan gelar ini belum pernah dianugerahkan kepada siapapun sebelumnya.

Dalam bukunya, Islam dan Adat Minangkabau, Hamka menyinggung kiprah Rahmah di dunia pendidikan dan pembaru Islam di Minangkabau. Dalam sejarah Universitas al-Azhar, Rahmah seoranglah perempuan yang diberi gelar Syekhah. Dalam sejumlah esainya, Azyumardi Azra menyebut perkembangan Islam modern dan pergerakan Muslimah di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari nama Rahmah sebagai perintis.

Teks/Foto: Zakiyah

Editor: Renita

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles