Jumat, Oktober 7, 2022

Senja untuk Naima

spot_img

Oleh Najmi Laila

Di sebuah ruangan yang cukup besar Naima masih dengan menundukkan kepala karena deadline yang tidak bisa anak buahnya capai hari ini. Masalahnya, bukan redaksi biasa yang Naima butuhkah segera, tapi redaksi event besar kemarin memang betul, mengkoordinir anggotanya bukan suatu hal yang mudah.

“Udahlah Nay. Ngapain si lo harus banget gitu down sama hal yang wajar aja kalau kejadian kek gitu? ”

“Tapi La, gue ngerasa gagal mimpin anggota gue, banyak yang masih gak dengerin apa kata gue.”

“Ada apa sih ini ribut banget keknya?” Suara berat Gentha ikut nimbrung dengan kopi yang selalu di bawanya.”

Gentha, Mila dan Naima adalah teman seperjuangan. Mereka masuk ke dalam dunia pekerjaan ini bersama, bukan di sengaja, namun mereka terbentuk karena didewasakan oleh keadaan.

Gentha yang memang memiliki passion dibidang ini dan menjadi tim kreatif untuk redaksi, Mila dengan kepiawaiannya dalam mengetik dan menjadikannya sebagai script writer dan Naima yang menjadi editor in chief mengkoordinir semua konten jurnalistik yang akan dimuat di media.

Saat istirahat seperti biasa mereka berkumpul hari ini, kebetulan di ruangan Naima.
Mila yang setelah mengangkat kepala yang tertuju pada teman di depannya itu, seketika berbalik badan dan keluar ruangan.

“Nay, mau kopi?” Naima hanya menggelengkan kepalanya.

“Mending lo ikut gue deh weekend besok!”

“Hah, kemana?”

Lets see!

Setelah dua jam perjalanan dari rumah Naima, akhirnya pertanyaan Naima terpecahkan juga. Selama dua jam dia terus bertanya mau kemana, mau apa, sama siapa, itu terjawab semua saat deru ombak terdengar, saat senja mulai turun.

“Tha, ini beneran disini? Lo mau bawa gue lihat sunset? Di pantai?”

“Yoi” Kata Gentha dengan mengangkat bahunya santai.

“Wah yuhuuu gue seneng banget, Tha!”

Gentha menarik tangan Naima membawanya lebih dekat dengan laut, sedikit berlari kecil dengan ombak, dan kebetulan terlihat laut sedang surut.
Setelah lumayan lama mereka bermain-main air, mereka duduk berdua di tepi pantai sama sama ingin menyaksikan matahari itu terbenam.

“Nay, lo tahu gak kenapa gue ajak lo kesini?” Gentha memulai pembicaraan.

“Karena gue suntuk seharian kemarin kan?”

“Yaa bisa dibilang gitu, tapi.. ”

“Tapi apa?”

“Kenapa gue ngajak lo kesini? Karena Pantai dan Senja bikin gue lebih bisa nerima kalau diri kita ini sebenarnya bisa aja punya kesalahan. Senja yang seolah ingin meninggalkan, tapi kenyataannya? Fajar tetap datang kan? Dengan hari dan harapan yang baru. Terus aja gitu.”

Naima seketika berkaca kaca, menatap Gentha lebih dalam.

“Waw, gue gak nyangka lo bisa sedalam itu mengartikan senja.”

“Karena buat gue, semesta adalah pembelajaran, begitu juga dengan senja.”

“Apa cuma itu satu-satunya alasan lo ngajak gue kesini?”

“Ada sih sebenarnya satu alasan lagi, gue emang gak tahu kita punya takdir yang sama atau enggak, tapi yang jelas, gue pengen senja jadi saksi, gue pernah bawa seseorang yang layak jadi teman gue buat menikmatinya.”

“Waw Tha, gue speechless banget. Gila ya temen sekantor gue ada yang kek begini. Ehm gue emang gak sepuitis lo sih kalau ngomong, yang jelas gue mau berterima kasih karena lo udah ajak gue kesini, ngasih vibe buat gue bangkit lewat senja dan gue cuma mau bilang, kita langitkan do’a -do’a kita, biar senja jadi saksinya, dan waktu yang akan menjawabnya.”

Mereka sama-sama tersenyum menyerahkan semuanya pada takdir dan menjadikan senja sebagai saksinya, Senja untuk Naima.

Penulis merupakan Pengurus PC IPPNU Kota Sukabumi.

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles