Jumat, Oktober 7, 2022

Sibuk Memperbaiki Diri Boleh, Asal Jangan Sibuk Menjadi Orang Lain

spot_img

Kutub.id–  Sibuk memperbaiki diri itu perlu, asal jangan sibuk berusaha menjadi orang lain. Karena berusaha menjadi orang lain belum tentu merasakan hal yang sama dengan orang yang kita inginkan.

Manusia adalah makhluk sosial yang dalam proses kehidupannya dalam mencari suatu kebenaran selalu dihadapkan dengan problematika dan tantangan yang harus segera terselesaikan. Dalam proses mencari kebenaran tersebut manusia pasti membutuhkan orang lain untuk berinteraksi, berkomunikasi, bertukar pikiran untuk memecahkan permasalahan dalam hidupnya.

Manusia sebagai makhluk sosial menjadi suatu hal yang wajar baginya membutuhkan interaksi dengan orang lain, entah intu interaksi secara langsung maupun lewat media sosial. Ketika berinteraksi dengan orang lain manusia cenderung ingin menunjukan atau menampilkan sisi terbaik dari dirinya. Baik itu penampilan fisiknya, kebaikannya, popularitasnya, kemampuannya, tutur katanya, dan lain sebagainya yang menurutnya orang perlu tahu.

Dalam proses interaksinya atau proses mencari teman dalam hidupnya, manusia pasti pernah bertemu dengan orang yang lebih baik dari dirinya, popularitasnya, kemampuannya, kepintarannya, keagamaannya, prestasinya dan lain sebagainya yang membuat dirinya kagum atas sosok temannya itu.

Timbulnya rasa kagum dalam diri manusia kadang menimbulkan rasa iri, iri ingin seperti dia yang hidupnya lebih baik dari dirinya. Namun rasa iri ini bisa juga menjadi nilai positif bagi dirinya untuk memperbaiki hidupnya.

Sebenarnya wajar saja ketika manusia membandingkan diri dengan orang lain. Hal itu dikarenakan sifat manusia yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang ia miliki. Namun membandingkan diri secara berlebihan tentunya tidak baik bagi dirinya yang membuatnya rendah diri dan akhirnya tidak bersyukur atas apa yang ia miliki.

Rasa iri dan suka membandingkan diri ini saya rasakan pribadi dalam kehidupan saya sendiri dalam proses mencari jati diri di bangku perkuliahan.

“Rasanya keren sekali melihat si A, relasinya sangat luas, kayaknya setiap orang mengetahui dan mengenalnya. Ingin deh rasanya kayak si B, aktif dimana-mana, ada saja kesibukannya, rapat inilah rapat itulah, pasti banyak manfaatnya buat orang lain.”

”Melihat lagi si C, ilmu agamanya bagus, ngajinya pinter, bahasa arabnya lancar, ibadahnya rajin, sepertinya surga dan kesuksesan jaminannya.”

“Kenapa kok saya tidak bisa seperti dia, lancar ketika berbicara, retorika nya bagus dan mudah dipahami oleh orang banyak. Sayamah apalah, gini-gini aja dari dulu.”

Ada orang yang selalu ingin ini itu. Jadi si A yang begini, jadi si B yang begitu, melihat setiap orang lebih baik dari dirinya. Rasa inilah yang saya rasakan ketika pertama kali mengenyam bangku perkuliahan. Sebenarnya ada baiknya, jadi ingin terus memperbaiki diri. Tapi kadang repot juga jadi orang kayak gini, jadi gak bersyukur dan membuat rendah diri, bukannya rendah hati.

Dari sini saya mulai berpikir, apakah tujuan hidup ini adalah untuk menjadi seperti si A, B, C atau Z?

Bagaimanapun saya adalah saya. Setiap kita adalah makhluk yang dibekali akal pikiran. Setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan. Dan soal manusia terbaik bukannya orang yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain. Sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah Saw dalam haditsnya yang diriwayatkan dari jabir

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya).”

Tapi kadang, kita hanya fokus pada kekurangan sendiri dan kelebihan orang lain. Akhirnya gak maju, diam di tempat gini-gini aja. Gak melihat potensi diri sendiri, malah berusaha jadi orang lain. Akhirnya telat bermanfaat bagi orang lain.

Mempunyai tokoh teladan memang perlu, biar kita bisa minta nasihatnya, dan supaya selalu memperbaiki diri atas ke kaguman melihatnya. Tapi jangan sampai lupa kita sendiri mempunyai sisi teladan yang jadi kelebihan kita dan belum tentu orang lain miliki.

Intinya sibuk memperbaiki diri sendiri boleh, asal jangan sibuk berusaha  menjadi orang lain. Tetap Semangat!

(Abdul Manap)

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles