Selasa, Oktober 4, 2022

Sisi Unik Puasa Ramadhan

spot_img

Oleh: Ajengan Yayan Bunyamin

Ada hal yang cukup menarik ketika kita membaca perintah puasa Ramadhan, yaitu surat al-Baqarah ayat 183.

Dalam ayat ini Allah secara tegas menyatakan “la’allakum tattaqun,” agar kalian menjadi orang yang bertaqwa.  Timbul sebuah pertanyaan kenapa hanya dalam perintah puasa Ramadhan Allah menegaskan hal ini, bukankah semua ibadah kita adalah dalam kerangka (mencetak orang yang) taqwa?

Paling tidak ada dua keunikan puasa Ramadhan yg tidak dimiliki ibadah yang lain, yang menurut hemat penulis sebagai jawaban dari pertanyaan tadi.

Pertama, Puasa Ramadhan adalah ibadah yg sifatnya mudhoyyak (sempit). Maksudnya antara waktu yang disediakan Allah untuk ibadah puasa dengan pelaksanaan ibadah puasanya pas, tidak kurang tidak lebih. Waktu ibadah puasa itu dari mulai terbit fajar sampai terbenam matahari, maka pelaksanaan puasanya pun dari mulai terbit fajar sampai terbenam matahari, oleh karenanya tidak ada istilah puasa awal waktu (selesai tarawih sudah puasa) atau akhir waktu (ba’da dzuhur baru mulai puasa, ini godin atau nyemen namanya).

Hal ini berbeda dengan ibadah lain, shalat misalnya. Waktu shalat dzuhur itu dari jam 12 siang sampai jam 15 misalnya, tapi praktek shalat dzuhurnya mungkin hanya 5 atau 10 menit, masih banyak waktu tersisa. Haji juga demikian, dalam al-Qur’an dikatakan al-hajju asyhurun m​​​​a’lumat, haji itu waktunya pada bulan-bulan yang telah ditentukan, tapi pelaksanaan ibadah hajinya cuma beberapa hari. Puasa Ramadhan itu beda, waktu dan pelaksanaannya pas, tidak ada sisa.

Karena waktu & pelaksanaan ibadahnya pas maka dari terbit fajar sampai terbenam matahari kita sedang ibadah (puasa), kegiatan apapun (kecuali hal yg dimakruhkan atau diharamkan) yg kita lakukan dalam interval waktu itu dinilai ibadah. Makanya ada hadis lemah (bahkan ada yg mengatakan palsu) yg beredar “tidurnya orang yg berpuasa adalah ibadah,” so jadi motivasi untuk rajin tidur ketika puasa.

Kedua, puasa Ramadhan itu sifatnya batiniyah, artinya puasa itu tidak tampak di permukaan sehingga terlihat oleh orang lain, kalau ibadah yang lain kan bisa terlihat, misalnya shalat. Shalat itu praktiknya jelas tampak sehingga kita bisa membedakan mana yang sedang shalat dan mana yang sedang tidak shalat, kalau puasa kan tidak, kita tidak bisa membedakan mana yang sedang puasa dan mana yang tidak (atau pura-pura) puasa bila keduanya sama-sama tidak makan dan minum.

Oleh karena puasa Ramadhan itu tidak bisa dilihat orang lain, hanya dia dan Allah saja yang tahu maka celah setan untuk membuat yang berpuasa ujub, riya & ingin dipuji orang hilang. Makanya dalam hadis disebutkan “setan dibelenggu” ya karena dia tidak bisa merusak keikhlasan yang berpuasa dengan siafat2 yang tadi.

Karena hanya orang yang berpuasa dan Allah saja yang tahu maka selama berpuasa perasaan dilihat dan diperhatikan oleh Allah hadir dalam kesadarannya.

Selama berpuasa (hampir 14 jam) kita merasakan dilihat dan diperhatikan oleh Allah sehingga kita tidak bisa melakukan sesuatu yang membatalkan puasa meski tidak ada orang lain yang melihat. Inilah esensi taqwa, kita merasa dilihat dan diperhatikan oleh Allah sehingga perilaku kita dijaga agar tidak melanggar apa yang Allah larang.

Perasaan ini selalu hadir selama kita berpuasa. Padahal ketika shalat yang beberapa menit saja sulit sekali menghadirkan rasa ini, tapi dalam puasa rasa ini hadir secara alami.

Setelah setiap hari selama sebulan kita dilatih untuk merasa dilihat dan diperhatikan oleh Allah diharapkan ketika Ramadhan selesai rasa ini sudah menjadi hal yang melekat dalam hati.

Wallahu ‘alam.

Ajengan Yayan Bunyamin, ulama muda Jawa Barat, Instruktur MKNU.

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles