Jumat, Februari 23, 2024

Vanessa Shania, Pelajar BPK Penabur Pertama yang Teliti Lintas Agama

Kutub.id – 4 tahun lalu, seorang siswa akhir SMA BPK Penabur kelimpungan menentukan judul karya tulis ilmiah yang menjadi syarat kelulusannya. Dia adalah Vanessa Shania, seorang perempuan keturunan Tionghoa yang saat itu masih berusia 18 tahun. 

Sasa, begitu panggilan akrabnya, pada mulanya hendak membawa tema mengenai sejarah negara-negara luar seperti Perancis atau Rusia sebagai topik tugas akhirnya. Namun, judul-judul yang ia ajukan terus mendapat penolakan dari pembimbingnya.

Setelah menonton acara televisi yang menunjukkan pencalonan presiden dan wakil presiden Jokowi dan Ma’ruf Amin, Sasa kemudian tertarik untuk mencari tahu mengenai sosok calon Wakil Presiden tersebut yang asing di telinganya.

Bertemulah gadis kelahiran Bandung 26 November 2000 itu dengan satu term bernama Nahdlatul Ulama (NU). Pengetahuannya mengenai NU pada saat itu, hanyalah sebatas organisasi masyarakat saja. 

Ketertarikannya akan sosok KH Ma’ruf Amin mendorong dia untuk mengenal lebih jauh mengenai Nahdlatul Ulama. Didapatinya NU tetap eksis dengan berbagai status sejak pendiriannya pada tahun 1926.

Pengetahuan barunya mengenai NU menarik minatnya lebih lanjut hingga akhirnya dia menetapkan topik tersebut sebagai judul tugas akhir SMAnya. Tema lintas iman ini sedikit membuatnya kalut karena belum ada satupun dalam sejarah 68 tahun (pada tahun 2018) berdirinya BPK Penabur yang tertarik membawa topik tersebut. 

“Puji Tuhan”, ucapnya, ketika judul “Kontribusi Nahdlatul Ulama pada Masa Orde Baru saat kembali ke Khittah 1926” disetujui oleh pembimbingnya. Kemudian, Sasa muda dengan seragam putih abu-abu membulatkan tekad untuk mendatangi kantor NU terdekat yang diketahui untuk menyelesaikan penelitiannya.

Berbekalkan surat pengantar dari sekolah, dia masuk ke Kantor PCNU dan menyatakan maksud tujuannya. Namun, perbendaharaan buku di sana tidak mencukupi dan dianjurkan untuk mendatangi kantor Pengurus Wilayah NU Provinsi Jawa Barat saja.

Dia pun berangkat ke Jl. Terusan Galunggung dimana kantor tersebut berada. Disana dia merasa disambut dengan baik dan mendapatkan cukup materi untuk keperluan karya tulis ilmiahnya.

Intensitas kedatangannya ke kantor PWNU Jawa Barat membuatnya kemudian mengenal akrab banyak teman-teman lintas iman. Dari mulai petinggi wilayah hingga teman-teman yang tidak jauh usianya.

Setelah karyanya rampung, selain dilaporkan pada sekolahnya, karya tersebut juga disimpan rapi di perpustakaan PWNU Jawa Barat. Walaupun tugasnya sudah selesai dan kini meneruskan pendidikan di Jurusan Hukum Universitas Katolik Parahyangan, Sasa tetap intens bersilaturahmi ke kompleks kantor NU Jawa Barat tersebut.

Bercengkrama dalam acara buka bersama, halal-bihalal dan banyak lainnya, membuat Sasa merasa kerasan dengan tempat ini. Baginya kehangatan PWNU membuat dia kemudian menjuluki PWNU sebagai rumah keduanya. 

Hingga kini, Vanessa tetap aktif mengikuti kegiatan lintas iman lainnya. Seperti acara diskusi lintas iman yang diadakan Huria Kristen Indonesia dan United Evangelical Mission pada Sabtu (2/7/2022) kemarin

Dia berharap kegiatan yang mendorong toleransi untuk terus dilaksanakan. Sebagai kata pamungkas, Sasa berkata, “kunci terwujudnya kebhinekaan, ya saling berusaha memahami perbedaan.” “Eksisnya NU tidak lain dan tidak bukan juga dikarenakan keterbukaannya pada agama dan kepercayaan lain,” pungkasnya. 

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles