Senin, September 26, 2022

Wasiat Nabi Sulaiman Kepada Anaknya

spot_img

Nabi Sulaiman menyampaikan wasiat kepada anaknya

…وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا…(الأنبياء: 79)

“..Kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu…” (QS. al-Anbiya: 79)

Sulaiman bin Daud bin Isya bin ‘Uwaid bin Baiz bin Salmun bin Nahsyun bin ‘Umainadzab bin Irm bin Hashrun bin Farish bin Yahuda bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim, demikian nasabnya menurut Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir. (Ibn katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah: 323)

Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam memberikan beberapa wasiat kepada anaknya, di antaranya sebagaimana tercantum dalam kitab al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur:

وَأَخْرَجَ أَحْمَدُ عَنْ يَحْيىَ بْنِ أَبِيْ كَثِيْرٍ قَالَ: قَالَ سُلَيْمَانُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ لِابْنِهِ: ، يَا بُنَيَّ إِيَّاكَ وَغَضَبُ الْمَلِكِ الظَّلُومِ فَإِنَّ غَضَبَهُ كَغَضَبِ مَلَكِ الْمَوْتِ.
وَأَخْرَجَ ابْنُ أبِيْ شَيْبةَ وَ أَحْمَدُ، عَنْ يَحْيَى بنِ كَثِيْرٍ قَالَ: قَالَ سُلَيْمَانُ لابنِهِ: يَا بُنَيَّ، لَا تُكْثِرِ الْغَيْرَةَ عَلَى أَهْلِكَ فَتُرْمَى بِالسُّوءِ مِنْ أَجْلِكَ وإِنْ كَانَتْ بَرِيْئةً. يَا بُنَيَّ إنَّ مِنَ الْحَياءِ صُمْتًا وَ مِنْهُ وَقارًا. يَا بُنَيَّ، إنْ أَحْبَبْتَ أَنْ تغِيْظَ عَدُوَّكَ فَلاَ تَرْفَعِ الْعَصَا عَنِ ابْنِكَ. يَا بُنَيَّ، كَمَا يَدْخُلُ الْوتِدُ بَيْنَ الحَجَرَيْنِ، وَ كَمَا تَدخُلُ الحيَّةُ بيْنَ الحَجَرَيْنِ، كَذلِكَ تَدْخُلُ الخَطِيئَةُ بَيْنَ البَيِّعَيْنِ.
وَ أَخْرَجَ أَحْمَدُ عَنْ مَالِكِ بْنِ دِيْنَارٍ قَالَ: بَلَغَنَا أنَّ سُليْمَانَ قَالَ لِابْنِه: امْشِ وَرَاءَ الْأَسَدِ وَلَا تَمْشِ وَرَاءَ الْمَرْأَةِ. وَأَخْرَجَ أَحْمَدُ عَنْ يَحْيىَ بْنِ أَبِيْ كَثِيْرٍ قَالَ: قَالَ سُلَيْمَانُ لابنِهِ: إنَّ مِنْ سُوْءِ الْعَيْشِ نَقْلاً مِنْ بَيْتٍ إِلىَ بَيْتٍ. وَقَالَ لِابْنِهِ: عَلَيْكَ بِخَشْيَةِ اللهِ فَإِنَّهَا غَلَبَتْ كُلَّ شَيْئٍ.
وَأَخْرَجَ أَحْمَدُ عَنْ يَحْيىَ بْنِ أَبِيْ كَثِيْرٍ قَالَ: قالَ سُلَيْمَانُ لِابْنِهِ: لَا تَقْطَعَنَّ أَمْرًا حَتَّى تُؤَامِرَ مُرْشِدًا، فَإِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ فَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِ. وَ قَالَ يَا بُنَيَّ، مَا أَقْبَحَ الْخَطِيْئَةَ مَعَ الْمَسْكَنَةِ، وَ أَقْبَحَ الضَّلَالَةَ بَعْدَ الْهُدَى، وَ أَقْبَحُ مِنْ ذَلِكَ رَجُلٌ كَانَ عَابِدًا فَتَرَكَ عِبَادَةَ رَبِّهِ.
وَأَخْرَجَ أَحْمَدُ عَنْ يَحْيىَ بنِ أَبِيْ كَثِيْرٍ قَالَ: قالَ سُلَيْمَانُ لِابْنِهِ: يَا بُنَيَّ إِيَّاكَ وَالنَّمِيمَةَ؛ فَإِنَّهَا كَحَدِّ السَّيْفِ

Imam Ahmad meriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir, dia berkata: Nabi Sulaiman berkata kepada anaknya: “Wahai anakku sayang, jauhilah olehmu murka raja yang amat lalim, karena sesungguhnya murkanya itu seperti murka malaikat maut.”

Ibnu Abi Syaibah dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Yahya bin Abi katsir, Dia berkata: Nabi Sulaiman berkata: “Wahai anakku sayang, Janganlah kamu cemburu berlebih-lebihan kepada istrimu, nanti dia kan tertuduh dalam keburukan sekalipun dia tak bersalah.” “Wahai anakku, sungguh sebagian daripada malu itu adalah diam, dan sebagian daripada diam adalah kewibawaan.” “wahai anakku, jika kamu senang untuk membuat marah musuhmu, maka janganlah kamu tinggikan tongkatmu atas anakmu.” “Wahai Anakku, sebagaimana pasak masuk antara dua batu, sebagaimana ular masuk antara dua batu, demikian juga halnya kesalahan kan masuk antara penjual dan pembeli.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Malik bin Dinar, dia berkata: Nabi Sulaiman berkata kepada anaknya, “Berjalanlah kamu di belakang singa, dan janganlah kamu berjalan di belakang wanita.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Yahya bin Abu Katsir, dia berkata: Nabi Sulaiman berkata kepada anaknya: “Sesungguhnya dari sebagian kejelekan hidup adalah berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya.” Nabi Sulaiman Berkata kepada anaknya, “hendaklah kamu takut kepada Allah, karena sesungguhnya takut kepada Allah itu mengalahkan segala sesuatu.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Yahya bin Abu Katsir, dia berkata: Nabi Sulaiman berkata kepada anaknya: “Janganlah memutuskan satu urusan sampai kamu memusyarahkannya terlebih dahulu kepada mursyid, maka apabila kamu mengerjakan hal yang demikian, janganlah bersedih atas putusan urusan tersebut.” Nabi Sulaiman berkata: Wahai anakku, “Alangkah buruknya kesalahan beserta ketentraman, kesesatan setelah petunjuk, namun yang lebih buruk daripada itu semua adalah saat seorang hamba yang beribadah kemudian dia meninggalkan ibadah kepada tuhannya.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Yahya bin Abu Katsir, dia berkata: Nabi Sulaiman berkata kepada anaknya: “Wahai anakku sayang, jauhilah olehmu adu domba, karena sesungguhnya adu domba itu laksana tepi pedang*.”

Wasiat Nabi Sulaiman lainnya dapat ditemukan pula dalam kitab Hilyah al-Awliya’, di antaranya:

عَنْ يَحْيَى ، أَنَّ سُلَيْمَانَ ، قَالَ لِابْنِهِ : يَا بُنَيَّ لَا تَعْجَبْ مِمَّنْ هَلَكَ كَيْفَ هَلَكَ وَلَكِنِ اعْجَبْ مِمَّنْ نَجَا كَيْفَ نَجَا يَا بُنَيَّ لَا غِنَى أَفْضَلُ مِنْ صِحَّةِ جِسْمٍ وَلَا نَعِيمَ أَفْضَلُ مِنْ قُرَّةِ عَيْنٍ

“Dari Yahya bin Katsir, Bahwa Nabi Sulaiman berkata kepada anaknya: “Wahai anakku sayang, Janganlah kagum akan orang yang telah binasa bagaimana dia dapat binasa, akan tetapi kagumilah orang yang telah selamat bagaimana dia dapat selamat. Wahai anakku, tidak ada kekayaan yang lebih utama dibanding kesehatan jasmani dan tidak ada kenikmatan yang lebih utama dibanding *penyejuk hati.*”

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا (الفرقان: 74)

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai *penyenang hati* (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. al-Furqon: 74)

Hikmatul Luthfi bin H. Imam Syamsudin, Nahdliyin kelahiran Kabupaten Sukabumi

Artikel di atas pernah dimuat di NU Online Jabar

 

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles