Senin, September 26, 2022

Zubaidah binti Jafar, Istri Khalifah Harun yang Sederhana dan Dermawan

spot_img

Kutub.id– Peradaban Islam pada masa lampau tak bisa dilepaskan dari peran dan sumbangsih Perempuan. Hebatnya, tokoh-tokoh perempuan itu tak hanya memberikan kontribusi pada bidang tertentu, tetapi beragama bidang. Salah satunya adalah Zubaidah binti Jafar.

Nama aslinya Amatul Aziz binti Ja’far bin Abi Ja’far Al-Manshour. Julukannya adalah Zubaidah yang didapat dari sang kakek karena kulitnya yang putih bersih dan sifatnya yang lembut. Ia seorang perempuan dari golongan Bani Abbas dan berpemikiran cemerlang. Beliau dilahirkan pada tahun 765 M., tepatnya saat pemerintahan Dinasti Al-Mahdi.

Ia dinikahkan dengan salah satu Khalifah Abbasiyah, yaitu Harun ar-Rasyid pada tahun 781 M. Dari hasil pernikahannya dengan Harun ar-Rasyid, lahirlah seorang anak yang bernama Muhammad bin Harun al-Amin. Walaupun begitu, Zubaidah bukanlah perempuan yang berpemikiran lemah dan bercita-cita rendah.

Ia menuliskan masa-masa kejayaan Islam dengan jari-jarinya. Zubaidah adalah istri kesayangan Harun ar-Rasyid, yang merupakan satu-satunya khalifah Bani Abbas yang berasal dari keturunan Bani Hasyim.

Zaman keemasan Islam juga mencatat bahwa perempuan memiliki peran penting dalam kehidupan bermasyarakat. Kisah tentang Zubaidah, istri Khalifah Harun ar Rashid, menjadi salah satu buktinya. Kiprahnya memperbaiki sumur Zamzam dan membangun jalan menuju Makkah untuk para jamaah haji masih bisa dinikmati manfaatnya hingga hari ini. Putri Zubaidah binti Ja’far Ibn Mansur adalah perempuan yang paling terkenal kedermawanannya dari semua putri Dinasti Abbasiyah. Dia dikenal sebagai perempuan yang berbakat, cerdas dan berdedikasi. Putri Zubaidah melakukan banyak proyek yang berorientasi pada pendidikan, kesejahteraan dan penelitian selama masa hidupnya.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentangnya, “Dia adalah wanita ahli ilmu dan ahli fiqih.” Sedangkan Ibnu Khalkan menyebutkan, “Dia memiliki seratus orang budak perempuan yang semuanya hafal Al-Qur’an, kecuali budak-budak yang hanya bisa membaca sekedarnya dan budak-budak yang tidak bisa membaca. Mereka semua memperdengarkan Al-Qur’an di dalam istana seperti suara lebah dan wirid setiap orang dari mereka adalah sepersepuluh dari Al-Qur’an.”

Zubaidah juga sosok wanita yang dermawan, dia menginfakkan banyak hartanya di jalan Allah, khususnya untuk pemeliharaan dan pengolahan Baitullah Al-Haram. Bahkan Al-Makki mengatakan, “Melalui tinta beberapa ahli sejarah menyebutkan bahwasanya dia sangat memperhatikan penggalian sumur-sumur di wilayah Arafah, Mina, dan Mekah.” Sehingga pada saat perjalanan haji ke Makkah, sang putri melihat kondisi tanah suci yang sedang mengalami krisis air untuk minum para jamaah haji. Mereka perlu pasokan air yang layak karena kekeringan sampai membuat debit sumur zamzam berkurang.

Melihat kondisi itu, sekembalinya ke Baghdad, dia mengumpulkan para insinyur dan memerintahkan mereka untuk memperdalam sumur dan merancang aliran air zam-zam agar dapat kembali mengalir deras. Zubaidah memanggil bendahara dan memerintahkan untuk menyediakan insinyur serta tukang bangunan dari seantero negeri. Mereka diperintahkan membuat saluran air sepanjang sepuluh kilometer dari Makkah hingga Hunain.

Peran Zubaidah tak berhenti sampai di situ. Ia juga membangun banyak masjid, waduk untuk irigasi, dan jembatan di Wilayah Hijaz, Syam, dan Baghdad. Ia dan ar-Rasyid dinilai telah berjasa merekonstruksi dan merehabilitasi Kota Mekkah. Zubaidah juga menghabiskan dana sekitar 54 juta dirham untuk membuat perkampungan Darbu Zubaidah. Di sana, ia membuat jalan yang menghubungkan Irak dengan Makkah dan menggali sumur-sumur. Atas jasa-jasanya sumur yang dibuat dinamakan sumur Zubaidah.

Begitulah kehidupan Zubaidah Rahimahullah menginfakkan banyak harta untuk memelihara negeri Allah, Al-Haram. Dia tidak sombong akan harta kekayaannya yang ia punya, dan dia juga sangat memperhatikan sedekah jariyah yang pahalanya akan terus mengalir kepada seorang muslim meskipun dia telah meninggal dunia, kebaikan-kebaikan yang dibuatnya masih terus dirasakan. Demi mengharap ridha Allah SWT, ia rela mendermakan hartanya kepada yang membutuhkan, bahkan agar meraih pahala Allah SWT yang jauh lebih besar nilainya dari pada harta nya di dunia.

Teks/Gambar  : Zakia Norma Yunita

Editor: Siti Fatonah

Baca Juga

Stay Connected

0FansSuka
20PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles